إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:
Kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Di dalam al-Quran yang terdiri dari 114 surat hanya ada dua surat yang dimulai dengan kata al-Wail. Yang pertama adalah surat al-Muthoffifin. Allah Ta’ala berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”(QS. Al-Muthoffifin:1)
Kedua pada Surat al-Humazah. Allah berfirman:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
“Celakalah setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah:1)
Kata al-Wail dalam dua ayat ini memiliki beberapa penafsiran. Imam al-Mawardi dalam an-Nukat wa al-‘Uyun menyebutkan ada tujuh penafsirkan terkait makna kata al-Wail. Dari tujuh penafsiran tersebut bermuara pada dua keterangan. Pertama: al-Wail adalah salah satu nama Neraka atau lembah di Neraka di mana di dalamnya berkumpul nanah penduduk Neraka yang disiksa.
Makna kedua: al-Wail adalah ungkapan kecelakaan atau doa keburukan dalam ungkapan orang Arab, kata al-Wail juga adalah ekpresi panggilan yang dimaksudkan sebagai celaan dan doa keburukan yang biasa diucapkan saat perang atau sengketa.
Menurut Syekh Mustafa Al-Maraghi, kata “wailun” digunakan untuk mencela dan memburukkan. Maksudnya adalah peringatan atas buruknya perbuatan yang akan disebutkan setelahnya. (Tafsir Al-Maraghi, Ahmad bin Musthafa Al-Maraghi. 30/237).
Maka kata al-Wail yang mengawali dua surat tersebut menunjukkan satu pesan yang jelas, bahwa mereka yang melakukan perbuatan yang Allah sebutkan setelahnya layak mendapatkan celaan dan kecelakaan bahkan menjadi sebuah “tiket” untuk kelak diazab di Neraka al-Wail di hari kiamat.
1) Kecelakaan Bagi Mereka Yang Curang
Kaum muslimin, Jamaah Jumat rahimakumullah.
Mari kita awali pada surat al-Muthoffifin, dalam ayat ini Allah mencela para pelaku usaha yang menjalankan perniagaan mereka dengan cara yang curang. Secara tidak langsugn Allah memerintahkan kita untuk berniaga dengan prinsip-prinsip kejujuran dan amanat.
Al-Muthoffifin yang menjadi nama surat ini adalah penyebutan bagi mereka yang melakukan kecurangan dalam perniagaan yang mereka lakukan. Pada ayat 2-3 Allah menjelaskan siapa mereka. Allah berfirman:
الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ
“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muthoffifin:2-3)
Kata al-Muthoffifin sendiri berasal dari kata thofif atau sesuatu yang kecil atau ringan dan samar untuk diketahui orang saat mereka berbuat curang atau mengurangi timbangan saat berdagang.(lihat: Mafatih al-Ghaib, Fakhruddin ar-Razi. 32/283)
Perbuatan curang dalam berdagang adalah praktek zalim terhadap harta orang lain. Ini adalah perbuatan mencuri secara tidak langsung, karena mengurangi apa yang seharusnya menjadi hak mereka.
Maka bisa dibayangkan, Allah Ta’ala mengancam azab dan mencela dengan kalimat yang kuat pada mereka yang berlaku curang dengan sesuatu yang sifatnya remeh atau murah, maka tentu pelanggaran yang lebih besar dalam merampas hak harta orang lain secara terang-terangan dan jumlah yang lebih besar, lebih layak mendapatkan azab yang lebih keras.
Allah Ta’ala mengingatkan di dalam al-Quran, bahwa pertukaran harta di antara manusia harus melalui transaksi yang dibenarkan dan berdasarkan saling ridha di antara mereka. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa:29)
2) Kecelakaan Bagi Para Pencela
Kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Pada surat al-Humazah. Allah mengancam azab bagi orang-orang yang mencederai kehormatan orang lain dalam bentuk verbal seperti celaan ataupun non verbal seperti ejekan dari gestur tubuh.
As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-Humazah adalah bentuk celaan verbal berupa kata-kata hinaan dan umpatan, ataupun al-lumazah adalah hinaan dalam bentuk gestur tubuh yang ditujukan untuk mencela dan merendahkan. (Taisir Karim ar-Rahman, Abdurrahman as-Sa’di. h.1103)
Islam sangat menjaga harkat dan martabat sesama hamba, di mana mencederai kehormatan mereka terhitung sebagai dosa, maka segala bentuk ujaran kebencian yang menyebabkan rusaknya hubungan sesama hamba termasuk perbuatan berdosa dan tercela.
Imam Al-Qurthubi menukil riwayat Ibnu Abbas dalam menjelaskan makna ayat pertama dari surat al-Humazah secara lebih luas, ia berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menyebarkan fitnah, yang membangkitkan perselisihan di antara orang-orang yang saling mengasihi, dan yang mencari aib manusia.” (al-Jami’ li Ahkami al-Quran, Syamsuddin Ahmad Al-Qurthubi, 20/181).
Islam mengajarkan kita untuk hati-hati dalam menggunakan lisan. Allah menjadikan lisan sebagai sumber anugerah dan juga sebab musibah. Lisan yang baik akan mengucapkan kalimat-kalimat baik sedangkan lisan yang buruk akan mengeluarkan kata-kata yang buruk. Lisan ibarat cermin hati seseorang, hanya hati yang baik yang akan memantulkan kebaikan.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjadikan ukuran kebaikan seorang muslim dari kemampuannya menjaga lisan. Nabi pernah ditanya oleh seseorang:
إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. (HR. Muslim)
Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjaminkan Surga bagi mereka yang benar-benar menjaga lisannya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka aku jaminkan untuknya surga” (HR. al-Bukhari)
Kaum muslimin, Jamaah Jumat rahimakumullah
Allah subhanahu wa Ta’ala menampilkan dua dosa terhadap sesama hamba yang kerap dilakukan manusia. Dua ayat dari dua surat di atas menjelaskan bahwa ada dua pelanggaran yang bermuatan dosa besar jika dilakukan: pertama, mencederai hak harta orang lain dengan cara yang batil. Kedua, mencederai kehormatan orang lain dengan mencela dan merendahkan. Dan kedua perbuatan ini sama-sama diancam oleh Allah dengan kata yang sama: al-Wail, yaitu kecelakaan dan laknat bagi yang melakukannya.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufik-Nya, untuk selalu mampu menjaga tangan kita dari mengambil harta orang lain dengan cara yang batil dan menjaga lisan kita dari mencederai kehormatan orang lain.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ





