Khutbah Jumat 3/6/2026 “Merawat 3 Pilar Ukhuwah Islamiyah”

Khutbah Jumat 3/6/2026 “Merawat 3 Pilar Ukhuwah Islamiyah”

الْحَمْدُ لِلَّهِ الرَّبِّ الْعَظِيمِ، الْإِلَهِ الرَّحِيمِ الْكَرِيمِ، لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ اللّهم صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِك عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصحَابِهِ وَالتَابِعِينَ لهُم بإحسانٍ إلى يَومِ القِيامةِ، وسَلَّمَ تَسليمًا كثيرًا.

فَيَا أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ اَّلذِيْنَ رَضُوْا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلِإسْلامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَا نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُؤْمِنُوْنَ اْلمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ عَزَّ مَنْ قَائِل :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ النَبِيﷺ : وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً المسلِم أَخُو المسلِمِ. صَدَقَ اللهُ العَظِيم وَصَدَقَ رَسُولُهُ الحَبِيب الكَرِيم وَنَحنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَاهِدِينَ وَالشَاكِرِينَ وَالحَمدُ للهِ رَبِّ العَالمِينَ. أَمَّا بَعدُ.

Ma’asirol Muslimin Arsyadani Wa Arsyadakumullah…

Tidak ada kalimat yang paling pantas untuk diucapkan seorang hamba di setiap detiknya melainkan kalimat hamdalah, sebagai  bentuk syukur  atas beribu kali nikmat Allah yang kita rasakan, namun Allah hanya meminta kepada manusia agar mensyukuri semua itu.

Selanjutnya shalawat dan salam kita haturkan kepada uswatun hasanah, teladan yang baik, junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ. Semoga shalawat dan salam juga tersampaikan kepada para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, serta orang-orang yang istiqomah hingga akhir zaman nanti. Semoga kita semua termasuk umatnya yang mendapat syafaat beliau pada hari ketika tidak ada syafaat melainkan atas izin-Nya.

Kami wasiatkan kepada diri pribadi khatib secara khusus dan umumnya kepada seluruh jamaah, untuk selalu meningkatkan keimanan dan takwa kita kepada Allah SWT, karena dengan bekal takwa inilah kita akan menghadap Sang pencipta. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah 197,“Dan berbekalah kalian semua! Karena sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah…

Sesungguhnya Agama Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin. Karena Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ sebagai Rahmat untuk seluruh alam semesta. Kemudian, Allah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya untuk Islam dan kaum muslimin.

Maka diantara nikmat-nikmat-Nya yang agung tersebut, ada satu nikmat yang patut kita syukuri, wajib kita merawatnya serta menjaganya, yaitu nikmatul ukhuwah atau nikmat persaudaraan Islam. Sebagaimana Allah berfirman:

وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآء فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ ‌إِخۡوَٰنا

“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS.Ali ‘Imran:103)

Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat di atas bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita. Yaitu kenikmatan berupa Allah mempersatukan hati kita dengan Islam dan menjadikan kita saling bersaudara. (Jamiul Bayan, Ath-Thabari, 5/650)

Rasulullah ﷺ pun juga menegaskan dalam sabdanya tentang nikmat persaudaraan yang agung ini. Beliau Rasulullah ﷺ bersabda:

وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً المسلِم أَخُو المسلِم

“Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara.” (HR.Muslim)

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah…

Maka sudah selayaknya kita mensyukuri nikmat persaudaraan ini dengan menjaganya, memelihara dan merawatnya. Setidaknya ada 3 pilar yang harus dijaga dan diperihara sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat persaudaran yang agung ini. Adapun pilar-pilar persaudaran tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Menahan Diri Dari Meyakiti Sesama.

Sesungguhnya diantara pilar, prinsip, atau dasar pertama dalam persaudaraan  adalah menahan diri dari meyakiti, menganggu serta merugikan orang lain.

Sebab, merugikan atau menyakiti sesama manusia adalah merupakan kezaliman serta kejatahan. Padahal Islam sebagai agama yang Rahmatal lil Alamin mengharamkan segala bentuk kezaliman dan kemungkaran.

Sebagaimana hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Bahwa Allah berfirman:

إِنِّي حَرمتُ عَلَى نَفسِي الظُلمَ وَعَلَى عِبَادِي فَلَا تَظَالَمُوا

“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan di antara kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu saling berbuat zalim!”  (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitabnya “Syarah Shahih Muslim” menjelaskan bahwa hadis di atas adalah merupakan larangan keras untuk  berbuat kezaliman kepada orang lain. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 16/132)

Oleh karena itu seorang muslim hendaknya menahan diri serta berusaha menjauhi segala bentuk kezaliman, tindakan merugikan dan perbuatan menyakiti orang lain,  baik dalam bentuk perbuatan ataupun perkataan.

Karena sejatinya seorang yang muslim yang baik adalah mereka, yang orang sekitarnya itu selamat dan  dari gangguan serta kejahatan lisan dan perbuatannya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh Sahabat Abu Musa tentang makna Islam yang utama, maka beliau   ﷺbersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الإِسلَامِ أَفضَل قَالَ مَنْ سَلِمَ المسلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه

“Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu berkata: Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Siapa yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lainnya Rasulullah ﷺ juga menegaskan larangan berbuat zalim dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Karena satu muslim dengan muslim lainnya itu haram darah, harta serta kehormatannya.

Maka, mari kita berusaha untuk meneladani akhlak budi pekerti luhur Rasulullah ﷺ dengan menjalankan perintahnya untuk menjauhi diri dari menyakiti, menzalimi, serta tindakan merugikan orang lain. Sehingga dengan demikian terpeliharalah persaudaraan.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah…

Kedua, Berbuat Baik Kepada Sesama.

Pilar selanjutnya yang perlu ditekankan dalam rangka memelihara persaudaraan sesama adalah berbuat baik kepada sesama,  menyebarkan kebajikan serta peduli kasih terhadap sesama. Yaitu berbuat baik dengan membantu pekerjaan orang lain, menolong orang yang kesulitan, dan berbagi  perbuatan baik lainnya secara umum.

Karena sesungguhnya kebaikan yang dikerjakan seorang muslim adalah merupakan sedekah serta kebaikan yang akan Allah balas dengan sebaik baik balasan, bahkan kebaikan yang remeh pun seperti menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari sedekah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

تَعْدلُ بَيْنَ الاثنَينِ صَدَقَة وَتُعِينُ الرَجُلَ فِي دَابَتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيهَا أَوْ تَرفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَة قَالَ وَالكَلِمَةُ الطَيبَةُ صَدَقَة وَكُل خُطوَةٍ تَمشِيهَا إِلَى الصَلَاةِ صَدَقَة وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَرِيقِ صَدَقَة

“Mendamaikan dua orang yang berselisih, adalah sedekah. Menolong orang yang naik kendaraan, atau menolong mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan, itu pun termasuk sedekah. Ucapan atau tutur kata yang baik, juga sedekah. Setiap langkah yang Anda ayunkan untuk menunaikan shalat, juga sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalanan umum, adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Maka hendaknya seorang muslim mencari peluang-peluang kebaikan untuk membantu, menolong dan meringankan kesulitan orang lain. Tentunya sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan harta, tenaga, ataupun ilmu serta nasehat kebaikan kepada orang lain.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan membantu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin, baik berupa dengan memberi manfaat melalui ilmu (mengajar), harta, bantuan pertolongan, petunjuk atau bahkan nasihat dan hal lain semisalnya. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi,21/17)

Sebab seorang muslim itu meyakini bahwa kebaikannya yang berupa membantu orang lain tersebut, akan menjadi wasilah baginya untuk memperoleh kemudahan di Dunia maupun di Akhirat Nanti.

Maka marilah kita menjadi pribadi yang peduli dan gemar membantu serta menolong sesama, sehingga dengan demikian terpeliharalah pilar kedua dari persaudaraan.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah…

Ketiga, Berbaik Sangka Dengan Sesama

Pilar selanjutnya yang tidak kalah penting adalah berusaha selalu berbaik sangka kepada sesama. Bahkan pilar ketiga ini menjadi pijakan utama dari pilar pertama dan kedua. Mengapa demikian?

Sebab, bagaimana mungkin seseorang muslim akan berusaha untuk menahan diri untuk menzalimi orang lain, sedangkan sifat berbaik sangka itu lenyap dari hatinya! Bahkan Islam memerintahkan untuk menjauhi prasangka-prasangka buruk, sebagaimana Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..”(QS. Al-Hujurat:12)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah melarang para hamba-Nya yang beriman dari sebagian besar prasangka, yaitu tuduhan, kecurigaan, serta praduga (buruk) semata terhadap keluarga, kerabat, dan orang lain. Karena sebagian hal tersebut itu adalah murni perbuatan dosa, maka hendaknya seseorang menjauhi hal-hal demikian sebagai bentuk kehati-hatian. (Tafsir Al-Quran Al-Adhim, Ibnu Katsir, 7/352)

Bahkan Rasulullah ﷺ juga menegaskan larangan berburuk sangka dalam hadis yang berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling dusta” (HR.al-Bukhari)

Imam Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa prasangka yang dilarang adalah prasangka (buruk) yang tidak berlandaskan bukti yang jelas, lalu dia menjadikan praduga tersebut sebagai sandaran. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 10/482)

Betapa banyak hal-hal buruk, kejahatan, kezaliman serta kemungkaran yang lahir dan bermula dari prasangka buruk, seperti, dengki, hasad, tajassus (saling mema-matai), saling mendiamkan dan keburukan keburukan lainnya.

Maka marilah kita menjadi pribadi yang selalu berusaha berbaik sangka kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang lain di sekitar kita. sehingga terjagalah persaudaraan dengan baik.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jumat Rahimakumullah…

Inilah beberapa pilar persaudaraan yang wajib untuk dijaga, dipelihara dan ditegakkan. Sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, yaitu berupa persaudaraan yang Allah karuniakan kepada kita.

Sehingga harapannya dengan mensyukuri nikmat persaudaraan ini, tentunya dengan memelihara pilar-pilar di atas, akan mewujudkan bangsa yang saling tolong-menolong dalam kebenaran dan kebaikan yang menghantarkan kepada Ridha-Nya.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ من َاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah kedua

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

للّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر…


Click here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation