.اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْوَاحِدُ الْأَحَدُ اَلْفَرْدُ الصَّمَدُ اَلَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدْ. اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا محمد الَّذِيْ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ سِرَاجًا وَهَّاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا، فَهَدَى اللهُ بِهِ الأُمَةَ وَكَشَفَ بِهِ عَنْهَا اَلْغُمَّةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَةَ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلِ أَرْسَلَهُ.فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ العَظِيْمِ، فَاتَّقُوْهُ إِنَّهُ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ. حيث قال الله تعالى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ. أما بعد
Jama’ah kaum muslimin rahimakumullahu
Allah Ta’ala melarang manusia mengambil harta sesama mereka dengan cara yang batil atau dzalim. Karena harta adalah salah satu bagian asasi dalam kehidupan manusia yang dijaga haknya dalam Islam. Dan Allah memberikan jalan yang benar dan halal untuk manusia mendapatkan harta, salah satunya melalui jalan perniagaan.
Allah Ta’ala berfirman:
ٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu.”(QS. An-Nisa’: 29)
Imam al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan makna, bahwa bentuk-bentuk pengambilan harta yang batil itu diantarnya: transaksi ribawi, judi, merampas, mencuri, khianat dan semisal dengan ini. Adapun perniagaan atau perdagangan adalah transaksi yang dibolehkan, dengan catatan itu dilakukan dengan cara saling ridha di antara orang yang bertransaksi. (Ma’alim at- Tanzil, al-Baghawi. 2/199)
Ayat ini menjelaskan betapa luasnya rahmat Allah atas hamba-hamba-Nya dalam mencari nafkah, semua peluang dibuka dan diizinkan selama tetap sesuai aturan syariat. Bahwa Islam memberikan rambu-rambu kepada setiap muslim agar harta yang mereka peroleh dengan cara yang halal dan barokah.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam juga menjelaskan bahwa salah satu sumber nafkah yang paling baik adalah melalui jual beli yang baik dan benar:
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, dan Al Hakim)
Jama’ah kaum muslimin rahimakumullahu
Berniaga dengan cara yang benar adalah salah satu amalan yang membuat seorang muslim punya tiket ke Surga. Bahwa orientasi niaga tidak hanya meraih untuk semata, tapi bisa jadi jembatan untuk meraih berkah dan ridha Allah Ta’ala.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ – وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء – يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan al -Hakim)
Dalam Islam tidak dibenakan aktifitas duniawi dan ukhrawi, Islam adalah landasan utama yang menjadi pedoman hamba dalam menjalankan kehidupannya. Maka tidak ada unsur dikotomis antara urusan dunia dan akhirat, bahwa keduanya dapat berjalan seiring; mencari nafkah sekaligus mendapat surga.
Maka bagi mereka yang telah Allah bukakan pintu rizkinya melalui jalan niaga, luruskan niat dalam berdagang atau berbisnis, bahwa anda tidak sedang hanya mencari pundi-pundi rupiah untuk nafkah semata, tapi anda sedang mengusahakan sebuah tiket untuk masuk Surga.
Jama’ah kaum muslimin rahimakumullahu
Untuk mendapatkan tiket ke surga melalui jalur niaga, tentu tidak sekedar menjadi pedagang saja. Ada nilai-nilai yang harus dipegang dan dijalankan dalam perniagaan agar niaga tersebut dijalankan dengan benar. Ada tiga prinsip yang harus diketahui mereka yang sedang berniaga:
1) Jujur dan amanah
Ini adalah prinsip dasar dalam berniaga dalam Islam. Karena berniaga dengan kebohongan dan khianat sama artinya dengan melakukan kedzaliman terhadap harta orang lain, sama artinya kita mengambil harta mereka dengan cara yang batil.
Allah Ta’ala mengecam praktik kecurangan dalam niaga, seperti pengurangan timbangan dll. Allah Ta’la berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muthaffifin:1)
Kejujuran dalam perniagaan adalah sebab Allah memberkahi orang-orang yang berniaga. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَ إِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Dua orang yang saling berniaga memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur, maka keberkahan dilimpahkan pada jual beli mereka. Namun, jika keduanya saling berdusta dan saling menutupi, maka keberkahan akan dicabut dari jual-beli mereka.” (HR. Al-Bukhari)
2) Mengilmui Aturan Agama Dalam Berniaga
Agar seorang pedagang tidak jatuh pada hal-hal haram saat berniaga, maka dia harus mengilmui secara cukup dan benar apa saja yang menjadi aturan Islam dalam berniaga. Karena ilmu yang akan memandu langkahnya dan menjaga dirinya dari apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala.
Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberi nasehat:
مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ
“Barang siapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.” (Mughnil Muhtaj, Khatib asy-Syirbini. 2/30.)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika menjadi khalifah memberikan aturan dalam pasar kaum muslimin Ia berkata,
لا يبيعُ في سوقِنا هذا إلَّا مَن تفقَّهَ في الدِّينِ
“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul ilmu agama (soal niaga)”. (HR. Tirmidzi dan al-Baghawi)
Maka seorang pedagang harus memiliki pemahaman yang cukup terkait riba, judi, gharar, dan aturan-aturan dasar dalam berniaga, agar ia tidak jatuh pada praktik-praktik transaksi yang diharamkan dalam Islam.
3) Menunaikan Kewajiban Harta
Orang-orang yang mencari penghidupannya lewat niaga juga harus ingat bahwa di dalam harta yang mereka hasilkan ada hak orang lain yang mereka harus tunaikan. Maka dalam perniagaan ada zakat wajib yang dikeluarkan jika haul dan nishabnya terlah terpenuhi. Hal ini berdasarkan keumuman perintah Allah dalam al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 267)
Ayat ini dimaknai oleh para mufassir seperti; ath-Thobari, Ibnu al-‘Arabi dan lainnya sebagai wajibnya zakat perniagaan, karena termasuk harta yang diusahakan manusia. Adapun kriteria haul dalam zakat niaga adalah hitungan satu tahun hijriyah dan nishab setara 85 gr emas. Jika kriteria ini terpenuhi maka seorang pedagang wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5%.
Kemampuan berhitung dan tata kelola niaga yang baik adalah bagian dari kesempurnaan seorang muslim. Hal ini menunjukkan Islam sangat mengharga profesionalitas dalam setiap pekerjaan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional” (HR Thabrani dan Baihaqi.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ





