“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, jika dia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka tanamnlah tunas itu.” HR. Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad.
Betapa kuat pesan yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sampaikan dalam sabdanya ini; pesan tentang masa depan. Tentang keberlangsungan hidup generasi yang datang setelah hari ini. Pesan tentang lingkungan hidup dan merawat bumi, pesan seorang reformis ekologis sejati.
Yang menakjubkan, pesan ini justru keluar dari lisan seorang manusia yang tinggal di gurun pasir yang gersang, di mana pepohonan hijau dan hutan belantara mustahil lahir dari bebatuan keras dan hamparan pasir kerikil.
Meski Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bukan seorang pakar ekologi, seperti para pegiat dan aktifis lingkungan yang kampanye soal climate change; perubahan iklim, dan pentingnya manusia untuk merawat bumi dan menjaganya untuk tetap hijau,. Nabi tidak bicara tentang narasi itu. Tapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah penyampai pesan-pesan dari Tuhan yang Maha Menciptakan.
Kedzaliman Terhadap Lingkungan
Di suatu kesempatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berpesan kepada para sahabat, sebagaimana yang dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim, “Takutlah kalian pada dua hal yang mendatangkan laknat. Yaitu orang-orang yang buang air di jalanan umum dan tempat-tempat berteduh”
Menjaga kelestarian lingkungan dan ketertiban umum. Itu pesan yang ingin disampaikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam lewat sabdanya, bahwa merusak dan mencemari lingkungan adalah perbuatan yang tidak ditoleransi karena mengganggu kelayakan hidup manusia. Bahkan sebagian ulama mengkategorikan ini sebagai perbuatan haram berdosa.
Bayangkan, hal kecil seperti ini tidak luput dari perhatian Nabi. Maka apakah mungkin seorang muslim dibenarkan melakukan pencemaran yang berdampak pada rusaknya lingkungan dan mengganggu kehidupan ribuan orang?!
Pun, sebaliknya. Setiap hal yang menjadi bagian dari penjagaan terhadap lingkungan dan merawat kenyamanan makhluk hidup, maka hal tersebut dihitung bagian dari kebaikan dan kebajikan.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَو يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أو إِنْسَانٌ أَو بَهِيْمَةٌ إِلاَّ كَانَ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon ataupun menanam tanaman kemudian burung, manusia, hewan ternak memakan darinya melainkan ia mendapatkan sedekah”.(HR.Muslim)
Dalam riwayat lain, al-Baihaqi dalam Syu’abil Iman dan Ahmad dalam Musnadnya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَن نَصَبَ شَجَرَةً، فَصَبَرَ عَلَى حِفْظِهَا، وَالقِيَامِ عَلَيْهَا حَتَّى تُثْمِرَ، كَانَ لَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ يُصَابُ مِنْ ثَمَرِهَا صَدَقَةٌ عِندَ اللهِ.
“Barang siapa yang menanam pohon, lalu bersabar dalam menjaganya dan merawatnya hingga berbuah, maka setiap sesuatu yang mengambil manfaat dari buahnya adalah sedekah baginya di sisi Allah.”
Pesan-pesan ini terus hidup, meski telah disabdakan ribuan tahun yang lalu. Pesan ini disampaikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam yang tidak pernah melihat hutan hujan tropis, tidak pernah menyaksikan tentang beragam tumbuhan dan buah-buahan. Namun sabda Nabi menembus zamandan tetap relevan bagi kita yang hidup di masa kini, dengan kondisi lingkungan yang sangat memprihatinkan. Disebabkan kerakusan dan zalimnya tangan-tangan manusia.
Benar yang dikatakan al-Quran, menampar kesadaran kita untuk kesekian kalinya, bahwa rusaknya bumi adalah sebab kita sendiri.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Rum: 41)
Pohon-pohon Surga
Merawat bumi dan menjaga lingkungan hidup bukan hanya tentang hubungan manusia dengan bumi atau sekedar nilai moral dan etis ekologis. Bukan! Bahkan pandangan seorang muslim tentang alam dan linkungan dilandasi oleh basis teologis. Tidak sekedar tentang perkara duniawi, tapi ukhawi.
Perhatikan kembali sabda-sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam di muka. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memberi simpul-simpul keterbuhungan antara menjaga lingkungan dan balasan akhirat. Seakan, pesan yang ingin disampaikan adalah; jagalah bumi yang telah Allah ciptakan untuk kalian, maka setiap kebaikan yang kalian tanam hari ini, akan kalian tuai esok di hari kemudian.
Maka yang menanam pohon di dunia akan memanennya kelak di akhirat, satu pohon di dunia akan diganti dengan pohon-pohon indah di Surga dengan bilangan yang tidak terhingga. Mari simak pesan al-Quran berikut:
وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ
“Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?” (QS. Yasin : 34-35)
Imam An-Nasafi memberi anotasi pada ayat ini dalam kitab tafsirnya, Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Takwil: bahwa makna dari sesuatu yang diusahakan adalah dari apa yang manusia kerjakan seperti menanam, menyiram, penyerbukan tanaman dan lainnya. Ini semua membuat buah-buahan matang sempurna. Pada dasarnya tumbuhnya buah-buahan adalah perbuatan dan ciptaan Allah akan tetapi di dalamnya ada kerja keras dari manusia.
Hijaunya hutan, indahnya alam, suburnya tanaman serta lingkungan indah berseri tidak akan terwujud kecuali manusia sadar akan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Koneksi manusia dan alam adalah hubungan timbal balik kebaikan. Bumi memberikan yang dibutuhkan manusia, manusia menjaga keberlangsungan kebaikan tersebut.
Menjaga lingkungan adalah bagian dari ketakwaan, dan merusaknya adalah bagian dari dosa dan kedurhakaan. Perusak bumi tidak pernah sama dengan mereka yang memperbaiki.
“Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan mereka yang durhaka?” (QS. Shad: 28)






