“Maha suci Engkau, Duhai Tuhan kami, dan Engkau sungguh Terpuji. Ya Allah, ampunilah aku.”
Di jantung malam yang kelam, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersujud panjang. Kenang Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha direkam dalam al-Bukhari dan Muslim. Gemuruh dada Nabi tersebab isak tangis terdengar jelas, dengan suara lirih munajat itu dibisikan di atas sajadahnya.
Pada malam yang lain, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha terbangun dari tidurnya, dan tidak mendapati Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ada di sisinya. Ia bangun lalu mencari Nabi, yang ternyata sedang berdiri khusyuk di masjid mengerjakan shalat.
‘Aisyah meraba perlahan untuk mendekat, hingga terdengar jelas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam merapalkan sebuah doa,
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu daripada siksa-Mu. Aku tidak sanggup menghitung pujian atas diri-Mu sebagaimana Kau menghitung pujian atas diri-Mu sendiri.” (HR. Muslim)
Rumah Nabi bukan istana, tetapi dari bilik-bilik sempit itu lahir cahaya yang menerangi dunia. Muncul sosok-sosok seperti telaga yang menghapus dahaga manusia, mari sejenak bersama Nabi, kita berkunjung melihat bilik-bilik cahaya.
Bilik-bilik Cahaya dan Rahim Peradaban
Rumah adalah tempat pertama di mana nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Benihnya adalah ibadah, pupuknya adalah teladan dan kelembutan, adapun buahnya adalah; istri dan keturunan yang menyejukkan mata.
Rumah bagi keluarga muslim adalah rahim peradaban. Dari sebuah rumah, nilai-nilai ubudiyah penghambaan diajarkan, rumah bukan sekadar bangunan tempat mengistirahatkan badan, atau menjadi tempat sunyi layaknya kuburan.
Jangan sampai rumah kita megah, tapi sepi dari aktifitas sholat dan doa. Di zaman modern seperti hari ini, rumah-rumah terang menyilaukan di malam hari, namun sayang jiwa penghuninya gelap tidak tersentuh cahaya.
Dari rumah yang dipenuhi cahaya ibadah, maka dunia ini tidak akan pernah mengalami gelap. Mari simak kenangan ummahat al-mukminin tentang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam saat bersama mereka di rumah.
Nabi memberikan keteladanan ibadah di rumah untuk keluarganya, bagaimana beliau menjadikan rumah mereka sebagai tempat munajat dan ibadah. Tempat menumbuhkan iman dan mengisi jiwa.
Nabi tidak sekadar memerintah, tapi jadi contoh konkret bagaimana menjadi hamba yang mulia di hadapan Allah Ta’ala.
“Nabi shalat malam hingga kakinya bengkak.” Kenang ibunda ‘Aisyah dalam catatan Imam Muslim. Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha punya kenangan tersendiri, “Aku tidak pernah tinggalkan dua belas rakaat shalat sunnah setiap hari, setelah aku mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, bahwa mereka yang mengerjakan itu akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)
Gerak-gerik Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam di rumahnya benar-benar diamati dengan seksama oleh istri-istrinya, momentum kebersamaan menjadi kesempatan untuk menyerap ilmu dan belajar dari dekat dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengenang, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam saat berada di rumah bersamanya sering mengulang-ulang doa, “Duhai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Abu Daud), sedangkan Hafsah putri Umar bin Khattab, juga hafal kebiasaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjelang tidur,
“Beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, lalu berdoa, ‘Ya, Allah. Jagalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-hamba Mu.” (HR. Abu Daud)
Selain mencontohkan langsung, beliau juga membimbing keluarganya dengan penuh kelembutan. Bentuk bimbingan itu terkadang dalam bentuk teguran-teguran, yang tentu bertujuan untuk meluruskan kekeliruan.
Pada suatu kesempatan beliau makan bersama, kenang Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi dari Ummu Salamah. “Waktu aku masih kecil dalam asuhan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan tanganku mencomot kemana-mana pada hidangan makanan. Kemudian Rasulullah menegurku : “Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang terdekat denganmu”. Setelah hari itu, aku makan sesuai tuntunan Nabi kepadaku.
Inilah bilik-bilik cahaya, tempat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mempersiapkan para guru-guru umat dari rumahnya. Kelak, lewat mereka, keteladanan dan pengajaran ini disyiarkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam seperti ayah dan istri-istrinya adalah ibu bagi orang-orang beriman. Merekalah rahim bagi peradaban Islam.
Sehidup, Sesurga
Slogan “Rumahku, Surgaku” adalah ekspresi yang menunjukkan esensi keberadaan sebuah rumah untuk jadi anak tangga menuju surga. Bahwa cita-cita sebuah keluarga muslim adalah menjadi orang yang diseru kelak di hari kebangkitan sebagai sebuah keluarga penghuni surga.
اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70)
Adakah yang lebih memuaskan hati, jika kelak kita akan dikumpulkan kembali bersama dengan orang-orang terkasih: orang tua, pasangan dan keturunan. Maka surga adalah sebaik-baik tempat reuni yang abadi.
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunyaو sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu..” (QS. Ar-Ra’du:23-24)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ayat ini adalah “ayat reuni” para keluarga yang ketika di dunia berkumpul dalam ketaatan, maka kelak mereka Allah satukan kembali di dalam surga sebagai sebuah keluarga sebagaimana dahulu di dunia.
Hidup di dunia terlalu singkat dan cepat, kebersamaan dibatasi dengan perpisahan. Akan tetapi, jika rumah-rumah kita dibangun dengan pondasi iman dan dihias dengan ketakwaan. Maka kita dan keluarga akan kembali berjumpa di negeri keabadiaan. Sehidup, sesurga. Selama-lamanya.





