Sejenak Bersama Nabi: Hidup Ini Hanya Singgah Berteduh
“Suatu ketika aku menemui Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau sedang berbaring…” Kenang sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkannya pada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Sebuah kenangan kesederhanaan Sang manusia pilhan, kebersahajaan yang tak jarang membuat perih perasaan orang-orang yang mencintainya.
“…Maka aku duduk bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, dan tampaklah olehku bekas tikar terpahat di sebagian tubuhnya, menunjukkan itu adalah tikar yang kasar. Air mataku tumpah berlinang, perih perasaanku melihat keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.”
“Kenapa kau menangis, wahai putra al-Khattab?” tanya Nabi heran.
“Bagaimana aku tidak menangis duhai Rasulullah, alangkah kasarnya tikar ini hingga membekas jelas di kulitmu, dan lihatlah perabot isi rumahmu, tidak terlihat olehku kecuali apa yang ditangkap oleh kedua mataku.”
Kesedihan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sungguh beralasan, bagaimana mungkin manusia paling mulia, hamba paling bertakwa, tapi dunia tidak berpihak padanya, pundi-pundi harta tidak ada di sekelilingnya, kehidupan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tidak lebih seperti kaum miskin-papa tak berpunya. Sungguh tidak pantas manusia mulia hidup dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
“…lihatlah, Ya, Rasulullah. Kisra Persia dan Kaisar Romawi hidup dengan gelimang harta dunia, sedangkan kau adalah Nabi dan kekasih-Nya..” protes Umar dengan perasaan pedih dan sedihnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tersenyum tenang, mengerti jalan pikiran dan kegelisahan hati Umar.
“Ya, Umar. Apakah kau rela jika akhirat untuk kita dan biarkan mereka mendapatkan dunia?” pertanyaan ini menyentak iman Umar, dia paham maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwa dunia bukanlah tempat tinggal sesungguhnya, hanya singgah semata. adapun akhirat adalah tempat untuk menetap selamanya.
Adalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu punya kenangan serupa, sebagaimana yang termaktub dalam sunan at-Tirmidzi, di suatu siang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tidur, lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu datang berkunjung, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menemuinya dengan bekas tikar membekas jelas di wajah dan sebagian tubuh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.
“Ya, Rasulullah, perlukah kami sediakan tikar lembut sebagai gantinya?” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak senang melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tidur beralaskan tikar keras hingga membekas di kulit Nabi yang mulia. Tapi jawaban Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam justru sebaliknya.
ما لي وللدنيا، ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها
“Apa urusanku dengan dunia, di dunia ini, aku hanyalah seperti seorang pengendara (musafir), berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian pergi melanjutkan perjalalan.” (HR. Ibnu Majah)
Apa yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam kepada umatnya tentang sikap zuhud, bukan hanya kata-kata penghias sabda, tapi menjadi bagian dari sikap hidup beliau. Bukankah lisan al-hal lebih kuat pengaruhnya pada jiwa dari sekedar lisan al-Maqal?
Demikianlah qudwah shalihah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam menyikapi dunia yang tidak akan pernah habisnya, tidak akan pernah membuat puas orang-orang yang rakus meneguknya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mensifati kerakusan manusia
“Seandainya manusia diberi emas sepenuh lembah, pastilah dia masih menginginkan lebih dari itu, dan tidak ada yang bisa memenuhi mulut manusia kecuali tanah (kematian).” HR. Al-Bukhari.
Dunia seperti lautan luas membentang, indah dalam pandangan mata; begitu menggoda yang memandanganya. Tapi kebanyakan manusia lupa air laut itu asin, meneguknya tidak akan pernah menghilangkan dahaga, semakin diteguk justu membuat peminumnya berakhir binasa.
Mengejar dunia itu melelahkan, seperti seseorang yang mengejar bayang-bayangnya sendiri di tengah terik mentari. Tidak akan pernah diraih, semakin dikejar akan semakin membuatnya letih. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham dan celaka hamba pakaian.” HR. al-Bukhari
Kecelakaan bagi mereka yang menghamba bukan kepada Allah tapi pada materi yang diciptakan Allah; harta, pakaian, kemewahan, pernah-pernik perhiasan dan lainnya. Itu semua halal sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, tapi sayangnya kebanyakan kita justru diperbudak olehnya, menghabiskan usia, waktu, meninggalkan kewajiban dan bahkan menghalalkan segala hal untuk meraihnya.
Kita lupa bahwa Allah telah berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
““Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ? (QS. Al-An’am: 32).





