Khutbah Jumat 4/10/2026 “Dzikir dan Tafakkur: Dua Tangga Menaiki Puncak Iman”

Khutbah Jumat 4/10/2026 “Dzikir dan Tafakkur: Dua Tangga Menaiki Puncak Iman”

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ ذِكْرَهُ حَيَاةً لِلْقُلُوبِ، وَجَعَلَ التَّفَكُّرَ فِي آيَاتِهِ نُورًا لِلْعُقُولِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ زَادُ الْمُؤْمِنِينَ، وَبِهَا تُقْبَلُ الْأَعْمَالُ وَتُغْفَرُ الذُّنُوبُ

. حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah ﷻ Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat, baik nikmat iman, Islam, maupun kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini untuk menunaikan ibadah Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang tidak hanya di lisan, tetapi juga hadir dalam hati, tercermin dalam amal, dan tampak dalam ketaatan kita kepada-Nya.

Jamaah rahimakumullah,

Kebanyakan dari kita memahami bahwa orang yang pintar adalah mereka yang kuat akalnya dalam urusan dunia. Kita menganggap kecerdasan itu terlihat dari prestasi di kelas, keberhasilan dalam bisnis, atau kepiawaian dalam berpolitik.       

Namun, dalam pandangan Allah orang-orang yang berakal, ulul albab, bukan sekadar mereka yang cerdas secara pikiran. Tetapi mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh menjaga kehidupan imannya.

Mereka memahami dengan sangat dalam bahwa iman itu tidak statis. Iman bisa bertambah, dan iman juga bisa berkurang. Karena itu, mereka tidak merasa aman dengan kondisi iman yang ada. Mereka terus berusaha agar imannya selalu meningkat.

Kesadaran inilah yang mendorong mereka untuk senantiasa menjaga kesehatan iman, sebagaimana seseorang menjaga kesehatan jasadnya. Jika jasad butuh makanan, maka iman pun butuh asupan. Jika jasad bisa sakit, maka iman pun bisa melemah.

Lalu apa di antara kunci agar iman tetap hidup, bahkan terus bertambah, tidak lain adalah apa yang Allah sebutkan dalam ayat-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, serta mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Ali Imran: 190-191)

Dalam ayat ini, Allah menggambarkan sosok ulul albab, yaitu orang-orang yang hidup hatinya. Mereka memiliki dua kekuatan utama yang membuat iman mereka kokoh: dzikir dan tafakkur.

1) Memperbanyak Dzikir

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketika Allah ﷻ menyebutkan dalam ayat tersebut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Juraij  menjelaskan bahwa dzikir yang dimaksud tidak terbatas pada ucapan tasbih, tahmid, dan tahlil semata. Dzikir dalam ayat ini mencakup makna yang luas, yaitu segala bentuk ibadah yang menghadirkan Allah dalam hati seorang hamba. Termasuk di dalamnya adalah shalat sebagai dzikir yang paling agung, dzikir yang dibaca di dalamnya, dzikir di luar shalat, bahkan juga membaca Al-Qur’an.

Selanjutnya, para ulama telah mengingatkan bahwa bertambah dan kuatnya iman sangat bergantung pada banyaknya dzikir dan ketaatan seorang hamba. Di antara nasihat yang sangat indah dalam hal ini adalah apa yang disampaikan oleh Ibnu Ruslan rahimahullah dalam matan Zubadnya:

فَكُنْ مِنَ الْإِيمَانِ فِي مَزِيدٍ وَفِي صَفَاءِ الْقَلْبِ ذَا تَجْدِيدٍ بِكَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالطَّاعَاتِ وَتَرْكِ مَا لِلنَّفْسِ مِنْ شَهَوَاتٍ فَشَهْوَةُ النَّفْسِ مَعَ الذُّنُوبِ مُوجِبَتَانِ قَسْوَةَ الْقُلُوبِ

“Hendaknya seorang hamba terus berusaha agar imannya senantiasa bertambah, dan hatinya selalu diperbaharui kejernihannya. Hal itu dapat diraih dengan memperbanyak shalat dan ketaatan, serta menahan diri dari mengikuti syahwat. Karena sesungguhnya, syahwat dan dosa adalah dua hal yang menjadi sebab kerasnya hati.”

Dari sini kita memahami bahwa dzikir bukan hanya sekadar amalan lisan, tetapi ia adalah kunci kehidupan hati. Semakin seorang hamba banyak berdzikir dan taat kepada Allah, maka hatinya akan semakin bersih, lembut, dan hidup. Sebaliknya, ketika seseorang tenggelam dalam syahwat dan dosa, maka hatinya perlahan akan mengeras, hingga akhirnya sulit menerima kebenaran.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Wabil ash-Shayyib. Beliau menyebutkan bahwa dzikir memiliki banyak sekali faidah, bahkan mencapai seratus faidah. Di antara faidah tersebut, beliau mengatakan:

أَنَّهُ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ المَعْرِفَةِ، وَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنَ الذِّكْرِ ازْدَادَ مِنَ المَعْرِفَةِ

“Dzikir itu akan membukakan bagi seorang hamba pintu yang sangat besar menuju ma‘rifah, yaitu pengenalan yang mendalam kepada Allah. Dan semakin banyak seseorang berdzikir, maka semakin bertambah pula ma‘rifahnya kepada Allah ﷻ.”

Inilah hakikat dzikir yang sering tidak kita sadari. Dzikir bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi lebih dari itu, dzikir adalah jalan untuk mengenal Allah dengan lebih dekat.

Semakin seseorang sering menyebut nama Allah, semakin ia merasakan kehadiran-Nya. Semakin lisannya basah dengan dzikir, semakin hatinya mengenal Rabb-nya. Hingga pada akhirnya, ia tidak hanya mengetahui Allah, tetapi benar-benar merasakan kedekatan dengan-Nya.

2) Memperdalam Tafakkur

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Selain dzikir, Allah ﷻ juga menyebutkan satu amalan agung lainnya, yaitu tafakkur:

وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Tafakkur adalah merenungi setiap kekuasaan dan ciptaan Allah ﷻ. Seorang hamba memperhatikan langit yang terbentang luas, bumi yang terhampar kokoh, serta segala keteraturan yang ada di dalamnya. Ia tidak sekadar melihat dengan mata, tetapi merenung dengan hati.

Dari tafakkur itulah lahir keyakinan yang mendalam bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada satu pun ciptaan yang terjadi tanpa hikmah, tidak ada satu pun yang berjalan tanpa pengaturan-Nya.

Tafakkur yang benar akan mengantarkan seorang hamba kepada perubahan. Ia tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keimanan dan ketaatan. Semakin dalam seseorang merenung, semakin ia menyadari kebesaran Allah, dan semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan-Nya.

Karena itulah, para ulama salaf sangat menekankan pentingnya tafakkur. Di antaranya adalah nasihat dari Bishr ibn al-Harith al-Hafi rahimahullah, beliau berkata:

لَوْ تَفَكَّرَ النَّاسُ فِي عَظَمَةِ اللَّهِ تَعَالَىٰ لَمَا عَصَوْهُ

Seandainya manusia benar-benar merenungi keagungan Allah, niscaya mereka tidak akan bermaksiat kepada-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Perkataan ini menunjukkan bahwa akar dari banyaknya kemaksiatan adalah kurangnya tafakkur. Hati yang tidak pernah merenung akan mudah lalai, dan ketika lalai, ia akan mudah tergelincir dalam dosa. Sebaliknya, hati yang hidup dengan tafakkur akan selalu merasa diawasi. Ia sadar bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari sinilah lahir rasa takut, harap, dan tunduk kepada Allah ﷻ.

Maka siapa saja yang ingin memperbaiki imannya, hendaknya ia tidak hanya memperbanyak dzikir, tetapi juga membiasakan tafakkur. Karena dengan tafakkur, hati menjadi hidup, iman menjadi kuat, dan ketaatan menjadi ringan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Oleh karena itu, tafakkur bukanlah amalan yang ringan, tetapi ia adalah amalan hati yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap keimanan. Karena itu, para sahabat Nabi ﷺ pun memberikan perhatian besar terhadapnya.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Amir ibn Abd Qays rahimahullah. Beliau berkata:

سَمِعْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ وَلَا اثْنَيْنِ وَلَا ثَلَاثَةٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ:
إِنَّ ضِيَاءَ الْإِيمَانِ أَوْ نُورَ الْإِيمَانِ التَّفَكُّرُ

Aku mendengar bukan hanya satu, dua, atau tiga orang, tetapi banyak dari sahabat Nabi ﷺ mengatakan bahwa cahaya iman, atau terang iman itu adalah tafakkur.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Oleh karena itu, marilah kita hidupkan amalan ini dalam keseharian kita. Luangkan waktu untuk merenung, memperhatikan ciptaan Allah, dan menghadirkan kebesaran-Nya dalam hati.

Karena dari sanalah cahaya iman akan menyala, menerangi hati, dan menuntun kita menuju ketaatan kepada Allah ﷻ.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَهُ الْحَمْدُ الْحَسَنُ وَالثَّنَاءُ الْجَمِيلُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa hati manusia sangat mudah lalai. Ia bisa keras tanpa kita sadari, dan bisa jauh dari Allah meskipun lisan masih berucap. Karena itu, kita membutuhkan penjaga bagi hati kita. Dan penjaga itu adalah apa yang telah Allah ajarkan dalam ayat-Nya: dzikir dan tafakkur.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya dan merenungi ciptaan-Nya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَزَكِّ نُفُوسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ لَكَ كَثِيرًا وَالْمُتَفَكِّرِينَ فِي آيَاتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا حَيَّةً بِذِكْرِكَ، وَأَعْيُنَنَا مُتَفَكِّرَةً فِي خَلْقِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أُولِي الْأَلْبَابِ.

اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا، وَثَبِّتْنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمَعَاصِي كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation