إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin, Jamaah Jumat rahimakumullah…
Allah menjadikan kehidupan di dunia ini sementara, tempat singgah semata. Sedangkan akhirat adalah tujuan dari perjalanan, kampung akhirat tempat sesungguhnya untuk menetap. Akan tetapi kehidupan yang dipenuhi perhiasaan dan kenikmatan membuat kebanyakan kita lupa dan lalai dari tujuan sesungguhnya.
Obat mujarab dari kelalaian tersebut adalah dengan mengingat bahwa setiap kita akan mati meninggalkan dunia ini. Jika kematian adalah pintu, maka setiap kita akan memasukinya, memulai perjalanan sesungguhnya menuju negeri akhirat.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda tentang maut:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian)” (HR. An Nasai dan Tirmidzi)
Kenapa pesan mengingat mati justru perlu dingat selalu bagi mereka yang hidup? Karena mengingat mati berarti membangun sebuah kesadaran tentang hakikat kehidupan sesungguhnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِي ضِيقٍ مِنَ العَيْشِ إِلَّا وَسَّعَهُ عَلَيْهِ، وَلَا فِي سَعَةٍ إِلَّا ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ
“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban)
#1 Faidah Mengingat Kematian
Kaum muslimin rahimakumullah…
Mengingat mati menghidupkan hati, lupa mati mematikan hati. Imam al-Quthubi rahimahullahu menukilkan dari Ali ad-Daqaq ada tiga manfaat mengingat mati dan ada tiga bencana saat melupakannya.
مَنْ أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِ المَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلِ التَّوْبَةِ، وَقَنَاعَةِ القَلْبِ، وَنَشَاطِ العِبَادَةِ. وَمَنْ نَسِيَ المَوْتَ عُوقِبَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: تَسْوِيفِ التَّوْبَةِ، وَتَرْكِ الرِّضَا بِالكَفَافِ، وَالتَّكَاسُلِ فِي العِبَادَةِ
“Barangsiapa memperbanyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: (1) mempercepat taubat, (2) hati merasa cukup (qana’ah), dan (3) semangat dalam ibadah. Dan barangsiapa lupa akan kematian, maka ia akan dihukum dengan tiga perkara: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak ridha dengan rezeki yang ada (kecukupan), dan (3) malas dalam beribadah.”. (al-Qurthubi, al-Tadzkirah bi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah, h.126)
Mengingat mati bukan berarti membuat kita tidak selera melanjutkan kehidupan, justru seharusnya menjadikan kita semangat untuk membangun kehidupan akhirat, karena tempo waktu untuk mengumpulkan bekal hanya sebentar.
Mengingat mati adalah rem yang efektif bagi kita sebagai manusia, untuk mengendalikan nafsu dan ambisi duniawi. Dikisahkan, Harun ar-Rasyid, khalifah Bani Abbasiyah yang terkenal dengan ilmu dan kebijaksanaannya. Pada masa kekuasaannya ia membangun sebuah istana indah dan megah.
Sahdan, pada saat peresmian, diadakan jamuan besar-besaran, semua orang diundang untuk mengagumi dan memuji keindahan istana baru tersebut. Decak kagum dan puja-puji sanjungan disampaikan sebagai apresiasi kepada sang khalifah. Hingga tiba giliran seorang pujangga yang bernama Abu Atahiyah dimintai pendapatnya, maka ia menyampaikan beberapa bait syair sebagai nasehat:
عِشْ مَا بَدَا لَكَ سَالِمًا … فِي ظِلِّ شَاهِقَةِ القُصُورِ يَسْعَى إِلَيْكَ بِمَا اشْتَهَيْتَ … لَدَى الرَّوَاحِ وَفِي البُكُورِ فِي ظِلِّ حَشْرَجَةِ الصُّدُورِ فَإِذَا النُّفُوسُ تَقَعْقَعَتْ….. فَهُنَالِكَ تَعْلَمُ مُوقِنًا……مَا كُنْتَ إِلَّا فِي غُرُور
“Hiduplah sesukamu dengan rasa aman, di bawah naungan istana yang menjulang tinggi. Segala yang engkau inginkan datang kepadamu, pada waktu petang maupun di waktu pagi. Apabila ruh-ruh itu telah bergejolak, di dalam nafas yang tersengal di dalam dada, maka pada saat itulah engkau benar-benar yakin, bahwa engkau tak lain hidup dalam tipu daya yang melenakan.”
Harun ar-Rasyid menangis di tengah gemerlap pesta meriah tersebut, sejenak menghentikan tawa riuh para hadirin. Beberapa orang yang hadir menghardik Abu Atahiyah yang menyampaikan syair nasehat di tempat yang tidak tepat. Namun sang khalifah justru bisa menangkap pesan penting dari nasehat tersebut; mengingat mati.
#2 Mukmin yang Cerdas
Kaum muslimin yang semoga Allah rahmati…
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mensifat mereka yang banyak mengingat hari perpisahan sebagai orang yang cerdas. Karena merekalah yang memahami hakikat kehidupan sesungguhnya, bahwa mereka yang memprioritaskan kehidupan yang kekal dari yang fana adalah orang yang benar-benar berakal. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ditanya:
“Siapakah mukmin yang cerdas, ya Rasulullah?”
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
“Mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk setelah kematian, merakalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)
Menyegerakan ketaatan adalah bagian dari ketakwaan. Sedangkan mengingat kematian adalah bahan bakar pendorong untuk lebih giat dan kuat mengejar kebaikan. Cukuplah firman Allah Ta’ala mengingatkan kita:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Akhiran, bahwa kehidupan dunia teramat singkat jika hanya diisi dengan sesuatu yang tidak bisa membuat kita selamat di akhirat, maka habiskanlah usia, tenaga dan harta kita untuk sesuatu yang akan membawa kita pada ridha-Nya, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
— Oleh: Umar Syam




