Khutbah Jumat 3/20/2026 “Khutbah ‘Idul Fitri: Menggapai Istiqamah Setelah Ramadhan”

Khutbah Jumat 3/20/2026 “Khutbah ‘Idul Fitri: Menggapai Istiqamah Setelah Ramadhan”

اللهُ أَكْبَرُ (×7) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ.  اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ، وَبِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ تَزْدَادُ الْحَسَنَاتِ، وَتُغْفَرُ الزَّلَّاتِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلَى مَا أَوْلَى وَهَدَى، وَالشُّكْرُ عَلَى مَا وَهَبَ وَأَعْطَى، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُوْلُ الْمُجْتَبَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْأَلْبَابِ وَالنُّهَى.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

Kaum muslimin, Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Pada hari ini, kita memuji Allah dengan sebaik-baik pujian, membesarkan nama-Nya dengan gema takbir sepanjang jalan, sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang sempurna dan petunjuk yang lurus sehingga mampu melaksanakan rangkaian ibadah selama Ramadhan hingga kita tiba di hari ‘Idul Fitri.

Maka hari ini adalah hari berbahagia.  Berbahagialah kalian yang selama Ramadhan ini telah berusaha sekuat tenaga untuk memaksimalkan ibadah siang dan malam. Berbahagialah kalian. Karena Allah telah berjanji akan mengganti lelah dan letih selama ibadah dengan pahala yang besar dan ampunan atas segala dosa.

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِه فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ

“Katakanlah “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira.” (QS. Yunus:58)

1) Saling Memaafkan, Saling Mengikhlaskan

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

Pada hari ini, hari Idul Fitri, adalah waktu yang sangat tepat untuk membersihkan hati, menghapus segala noda kebencian dan permusuhan dari dalam jiwa.

Ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkuat cinta kita kepada Allah lewat memperbaiki hubungan di antara kita sesama hamba.

Mari perbaiki hubungan dengan sesama, dengan saling memaafkan, dan menebalkan rasa ukhuwah di antara kita.

Sebagaimana kita sangat berharap Allah berkenan memaafkan dan mengampuni segenap dosa-dosa, maka rasa maaf yang sama seharunya diberikan kepada mereka yang berbuat salah kepada kita. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُور رَّحِيمٌ

“Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. an-Nuur: 22)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan bahwa memaafkan adalah kemuliaan pada seseorang. Beliau bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang memberi maaf pada orang lain melainkan itu menjadi kemuliaan baginya, dan tidaklah ada seorang hamba yang tawadhu’ (bersikap rendah hati) kecuali Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR Muslim no: 2588)

Kaum muslimin, Rahimakumullah

Hari raya ‘Idul Fitri, bukan waktu untuk memperpanjang sengketa dan permusuhan, bukan momen untuk saling memendam amarah dan saling berjauhan. Jika di selain waktu hari raya perbuatan-perbuatan itu terlarang, maka di hari Idul Fitri tidak ada tempat untuk sikap-sikap seperti itu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا ‌يَحِلُّ ‌لِمُسْلِمٍ ‌أَنْ ‌يَهْجُرَ ‌أَخَاهُ ‌فَوْقَ ‌ثَلَاثٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu saling menjauhkan, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Al-Bukhari hadis. No.6237)

Mari hapus sekat-sekat yang memecah belah. Mari singkirkan pembatas-pembatas yang membuat kita saling bermusuhan. Mari Bersatu kembali di atas iman dan takwa. Di atas tali ukhuwah Islamiyah yang diridhai oleh Allah.

2) Anugerah Istiqomah

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

Kaum muslimin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Ramadhan telah usai. Bulan ibadah telah berlalu bersama dengan fasilitas-fasilitas untuk taat di dalamnya telah lewat. Maka manusia terbagi menjadi dua;

  • Pertama, mereka yang meninggalkan apa yang telah mereka bangun selama Ramadhan.
  • Kedua, mereka yang tetap istiqomah menjaga simpul-simpul keshalihan pada diri mereka.

“Apa itu istiqamah?”

Jika kita buka kamus besar Bahasa Indonesia, kita akan mendapati istiqamah artinya sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Ada penjelasan menarik dari  Sayyid Murtahdo az-Zabidi rahimahullah tentang arti istiqamah:

وَالِاسْتِقَامَةُ هِيَ الثَّبَاتُ وَالِاعْتِدَالُ عَنِ الْمَيْلِ إِلَى طَرَفَيِ الْأَمْرِ الْمُعْتَصَمِ بِهِ

“Istiqamah adalah konsisten dan seimbang dari kecenderungan kepada dua sisi berlebihan dari suatu perkara yang dipegang teguh.” (Ithafu as-Sadaat al-Muttaqin,10/232).

Penjelasan beliau mengarah pada dua poin penting tentang istiqomah: konsistensi dan keseimbangan. Maka makna dari istiqomah adalah kemampuan seorang hamba untuk konsisten dan teguh dalam pendirian serta seimbang dalam menjalankannya.

Istiqamah adalah teguh meniti jalan yang lurus, yakni Dinul Islam, tanpa berkelok ke kiri atau ke kanan, meliputi keteguhan dalam melaksanakan amal ketaatan, baik amalan lahir atau pun amalan batin, dan meninggalkan segala bentuk larangan.

jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Fushilat ayat 30 tentang orang-orang istiqomah dalam ketaatan:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah,”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan,  bahwa orang-orang ini adalah mereka yang beramal ikhlas karena Allah subhanahu wa Ta’ala dan teguh melaksanakan amal ketaatan tersebut sesuai dengan garis ketentuan syariat-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 70/160)

Kita semua berharap penuh seluruh jerih payah kita dalam beribadah kepada Allah selama bulan Ramadhan menghasilkan buah yang manis. Yaitu ridha dan pahala dari Allah subhanahu wa Ta’ala, dan diistiqamahkan dalam ketaatan kepada-Nya.

3) Agar Istiqamah Dalam Taat

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

Kaum muslimin, Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

PR besar bagi setiap kita yang beramal selama Ramadhan adalah merawat ketaatan paska Ramadhan, yang tidak lain adalah istiqomah setelah Ramadhan. Lantas bagaimana cara agar dapat istiqamah dalam beramal? Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar istiqomah dapat diraih:

  • Pertama: Memperbanyak amalan ketaatan dan selalu memotivasi diri dalam melaksanakannya.

Sebagai seorang hamba yang beriman, kita semua meyakini bahwa iman dan takwa itu dapat meningkat juga dapat menurun. Iman dan takwa akan meningkat seiring dengan meningkatnya amal ketaatan. Sebaliknya, iman dan takwa akan menurun seiring dengan menurunnya amal ketaatan dan meningkatnya maksiat yang dilakukan.

Oleh sebab itu, penting untuk selalu memiliki memotivasi agar selalu berada di jalan ketaatan. Meskipun dengan intensitas amal yang kecil. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim)

  • Kedua: Selalu berinteraksi dengan al-Quran.

Al-Quran adalah sumber petunjuk bagi manusia. Maka setiap interaksi dengan al-Quran baik itu membaca, menghafal, mentadabburi dan mempelajari maknanya merupakan kunci dalam meraih istiqamah.

Allah berfirman,

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ. لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

“(Al-Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 27-28)

  • Ketiga: Ikhlas dalam ilmu dan amal

Untuk mencapai tujuan tertinggi dari melaksanakan amal kita butuh satu kunci, yaitu ikhlas.Tanpa keikhlasan, ilmu dan amal kita akan sia-sia tak bernilai di sisi Allah. Jika ilmu dan amal kita tidak bernilai di sisi-Nya, tentu mustahil kita akan mampu istiqamah dalam amal ketaatan kepada-Nya.

Karena inti amal adalah niat yang ikhlas lillahi Ta’ala dan itulah yang dinilai oleh Allah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR. Muslim)

  • Keempat: Membersamai orang-orang shalih.

Istiqomah dalam taat lebih mudah jika dilakukan bersama dengan orang-orang shalih. Teman punya pengaruh signifikan dalam menjaga suasana semangat dalam diri kita. Allah Ta’ala memberi israrat tentang hal ini. Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya” (QS. Al-Kahfi:28)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam juga berpesan tentang pengaruh teman dalam urusan  agama seseroang. Beliau bersabda: “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai,” (HR.at-Tirmizi hadits no. 2307)

Maka, bertemanlah dengan orang saleh agar kalian mendapatkan manfaat atas kesalehannya. Berteman dengan orang saleh akan menguatkan kalian dalam istiqamah menapaki jalan ketaatan

  • Kelima: Berdoa memohon Keistiqomahan dan keteguhan

Doa adalah senjata. Segala bentuk ikhtiar, hendaknya disertai dengan doa. Demikian pula, dalam hal istiqamah dalam beramal, perlu juga menyertainya dengan doa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa yang sering beliau baca, memohon keteguhan dan keistiqomahan dalam kebenaran dan ketaatan: beliau bersabda:

اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Boleh juga berdoa dengan lafal kita sendiri semampu kita, dengan syarat tidak menyalahi ketentuan dalam berdoa kepada Allah. Sebagaimana salah seorang ulama salaf yang bernama al-Hasan al-Bashri, selalu mengucapkan doa,

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا ‌فَارْزُقْنَا ‌الِاسْتِقَامَةَ

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, karuniakan kepada kami istiqamah dalam beribadah.”

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

Kaum muslimin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Sebagai penutup khutbah Ied pada pagi hari ini , Mari sejenak kita tundukkan hati kita untuk bermunajat kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan pada-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ، وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَناَ دِينَناَ الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِناَ وَأَصْلِحْ لنَاَ دُنْيَاناَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُناَ وَأَصْلِحْ لَناَ آخِرَتَناَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُناَ وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لُناَ مِنْ كُلَّ شَرٍّ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْناَ مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْناَ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ.

اللَّهُمَّ إِنّاَ نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَناَ خَيْرًا

اَللهم اَتِنَا رِضَاكَ فِي الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالشَهَادَةِ وَالْمَغْفِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَأَدَامَ عَلَيْكُمُ الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ، وَوَفَّقَكُمْ لِخَيْرِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation