الْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْوَاحِدُ الْأَحَدُ اَلْفَرْدُ الصَّمَدُ اَلَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدْ.
أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَسْتَهْدِيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُرْشِدًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَعَظِيْمِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا، أَحْمَدُ مَنْ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ سِرَاجًا وَهَّاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا، فَهَدَى اللهُ بِهِ الأُمَةَ وَكَشَفَ بِهِ عَنْهَا اَلْغُمَّةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَةَ فَجَزَاهُ اللهُ عَنَّا خَيْرَ مَا جَزَى بِهِ نَبِيَّا مِنْ أَنْبَيَائِهِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلِ أَرْسَلَهُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ العَظِيْمِ، فَاتَّقُوْهُ إِنَّهُ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ. أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin, jamaah jumat yang Allah Rahmati
Allah Ta’ala telah menjamin rizki dan fasilitas nikmat yang banyak bagi manusia demi keberlangsungan hidupnya di dunia. Sebagai rahmat dan kasih-Nya, manusia diizinkan untuk menikmati semuanya yang telah Allah halalkan, dan sebagaian lainnya diharamkan sebagai ujian.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172)
Imam al-Baidhawi menjelaskan bahwa, ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah melapangkan nikmatNya bagi manusia, dan mengizinkan untuk dinikmati kecuali yang haram. Orang-orang beriman diperintahkan untuk hanya mencari yang halal dan baik sebagai rezki mereka. Dan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk beribadah sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala. (Anwar al-Tanzil wa asraru at-Ta’wil, al-Baidhawi, h.119)
Akan tetapi manusia dengan nafsu dan syahwat yang selalu tidak pernah merasa cukup, sangat sering melampaui batas yang telah Allah tetapkan, tidak peduli dengan apa yang telah Allah haramkan. Mereka mengikuti langkah dan bisik-bisik setan. Allah mengingatkan hal tersebut dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam juga telah mengabarkan bahwa manusia semakin dekat menuju hari kiamat, semakin jauh dari petunjuk dan semakin tidak peduli dari mana mereka mendapatkan harta, pertimbangan halal dan haram bukan lagi menjadi acuan utama untuk mencari rizki. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Kaum muslimin rahimakumullah
Harta haram ibarat racun, tidaklah seseorang memakannya melainkan dia akan binasa karenanya. Para ulama mengingatkan tentang dampak buruk dari harta haram yang dimakan oleh seseorang.
Ada tiga dampak buruk yang akan dialami oleh mereka yang memakan harta haram:
1) Menjadi sebab dimasukkan ke dalam Neraka
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu:
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi petunjuk bahwa harta haram yang dikomsumsi akan menjadi sebab ia disiksa di neraka. Maka soal rizki yang kita cari, bukan sekedar urusan duniawi, akan tetapi sangat erat dengan urusan ukhrawi. Dalam hadis lainnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan satu dari lima hal yang akan ditanyakan pertama kali adalah soal sumber rizki yang kita makan: dari mana didapatkan, untuk apa dihabiskan.
2) harta haram menjadi penghalang terkabulnya doa
Harta haram adalah hijab penghalang antara seorang hamba dan Allah Ta’ala. Karena segala yang buruk sulit mendekat pada yang baik, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Suci dan Baik, hanya berkenan menerima yang baik dari hamba-hamba Nya.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim, no. 1015)
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan bahwa segala sesuatu yang didapatkan dari yang haram atau berasal dari sesuatu yang haram; baik yang dikomsumsi, atau yang dimanfaatkan seseorang akan jadi sebab terhalangnya koneksi antara dia dan Allah Ta’ala.
Dalam Riwayat lain, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia pernah meminta kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam untuk mendoakannya agar memiliki doa yang mustajab. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berpesan:
يَا سَعْدُ، أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الرَّجُلَ ليَقْذفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفه مَا يُتَقبَّل مِنْهُ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَأَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْت وَالرِّبَا فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Sa’ad, perbaiki makananmu, maka doamu akan mutajab. Demi yang jiwa Muhammad berada di gengamanNya, seseorang yang memakan sesuap dari yang haram, maka akan tertolak (ibadah) selama 40 hari, dan siapa saja yang tumbuh pada tubuhnya sesuatu yang haram, dan riba maka neraka pantas jadi tempatnya.” (HR. ath-Thobrani dalam Mu’jamul al-Ausath)
3) Harta haram menyebabkan malas untuk beribadah
Ada keterkaitan yang erat antara harta haram dan ibadah. Bahwa harta haram akan berdampak pada semangat, kekhusyukan dan kebersihan ibadah yang dilakukan seseorang. Isyarat ini tampak pada firman Allah Ta’ala dalam surat al -Mukminun ayat 51:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
“Wahai para Rasul, makanlah oleh kalian sesuatu yang baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa adanya kaitan antara perintah memakan yang baik dan mengerjakan amal shalih. Bahwa harta halal adalah sebab semangatnya seseorang menjalankan ibadah. (Tafsir al-Quran al-‘Adzim)
Imam al-Ghazali menukil dari Sahl at-Tusturi yang menjelaskan dampak buruk harta haram yang dikomsumsi seseorang, ia berkata
مَنْ أَكَلَ الحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ، شَاءَ أَمْ أَبَى، عَلِمَ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ. وَمَنْ كَانَتْ طُعْمَتُهُ حَلَالًا أَطَاعَتْهُ جَوَارِحُهُ، وَوُفِّقَتْ لِلْخَيْرَاتِ.
“Orang yang memakan harta haram, tubuhnya mau tidak mau akan bermaksiat kepada Allah secara sadar atau tidak sadar, sedang orang yang memakan harta halal, tubuhnya mau tidak mau akan taat kepada Allah dan dia diberi Taufik senantiasa melakukan banyak kebaikan.” (Ihya’ Ulumiddin, al-Ghazali, 2/92)
Kaum muslimin rahimakumullah
Betapa singkat kehidupan ini, betapa ketat hisab yang akan Allah tegakkan atas kita untuk setiap amal perbuatan kita, untuk setiap rizki yang kita dapat dan habiskan. Maka periksa Kembali harta-harta kita, status halal-haramnya, dan mintalah selalu kepada Allah agar menolong kita serta mencukupkan diri kita dengan apa yang halal dan dijauhkan dari setiap yang haram.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa untuk kita untuk dibaca selalu dan agar jadi pengingat untuk kita:
اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




