Khutbah Jumat 4/17/2026 “Menjadikan Keluarga Partner Beramal Shalih”

Khutbah Jumat 4/17/2026 “Menjadikan Keluarga Partner Beramal Shalih”

 اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

يَا أَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّ نِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِه وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang berlimpah. Terlebih lagi nikmat sehat yang saat ini kita rasakan, yang itu merupakan nikmat berkaitan dengan dunia yang paling agung. Juga nikmat iman yang Allah semayamkan dalam hati kita, yang itu merupakan nikmat berkaitan dengan akhirat yang paling agung. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang tiada pernah berhenti bersyukur.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad  SAW; yang kita diperintahkan meneladani beliau bukan hanya ketika beliau shalat dan puasa saja, melainkan kita diperintahkan meneladani beliau di segala aspek kehidupan kita.

Tidak lupa, khatib mengajak kepada pribadi khatib dan jamaah sekalian, agar kita senantiasa menyiapkan bekal kita dalam rangka perjalanan panjang menuju Allah. Allah berfirman, “Berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal ialah takwa kepada Allah.”

Ma’asyirol muslimin rahimaniallahu wa iyakum

Organisasi terkecil dalam kehidupan kita adalah keluarga. Sedangkan di antara faktor terbentuknya organisasi ialah tercapainya suatu tujuan yang tidak dapat dicapai jika dilakukan hanya seorang diri, atau memaksimalkan hasil yang tidak dapat dicapai jika dikerjakan secara individu. Begitu juga dengan organisasi yang disebut keluarga, saat ia dikaitkan dengan amal shalih, maka banyak amal shalih yang bisa dilakukan yang tidak maksimal jika dilakukan seorang diri.

Amal shalih dalam rumah tangga dapat dimulai dari semangat untuk menjauhkan keluarga dari terjerumus kepada siksa yang paling pedih. Di saat yang sama Allah memerintahkan agar seorang hamba menjaga diri dan keluarganya dari siksa api yang berbahan bakar manusia dan batu. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim:6)

Dalam tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof Dr. wahbah az-Zuhaili, menjelaskan bahwa ini merupakan perintah bagi orang beriman agar mereka menjauhkan diri sekaligus keluarga mereka dari neraka dengan meninggalkan kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan.

Dari penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa tidak cukup hanya berhenti sampai pada diri sendiri, melainkan penjagaan diri dari api neraka juga meliputi keluarga yang menjadi organisasi terkecil yang kita punya.

Ma’asyirol muslimin rahimaniallahu wa iyakum

1) Pasangan sebagai Partner Kebaikan

Yang diharapkan dari pertemuan kita dengan pasangan kita yaitu tidak hanya sekadar tinggal bersama, bekerja, berketurunan, hingga salah satu dari kita saling meninggalkan (baik karena alasan kematian atau alasan lainnya). Yang diharapkan dari kebersamaan dengan keluarga, lebih khusus pasangan, adalah bagaimana agar bersamanya menjadikan kita kian taat kepada Allah, sehingga kebersamaan itu tidak hanya di dunia melainkan lanjut bersama hingga ke dalam surga.

Salah satu potret keluarga yang memiliki misi hidup bersama hingga ke dalam surga adalah keluarga sahabat Abu Thalhah dan istrinya Ummu Sulaim. Pasangan sahabat ini tahu bagaimana membuat Allah ridha kepada keluarga mereka.

Suatu waktu Rasulullah kedatangan tamu. Beliau menawarkan kepada para sahabat untuk bersedia menjamunya, tanpa pikir lama Abu Thalhah langsung menyambutnya. Maka dibawa tamu Rasulullah itu ke rumahnya. Di sini kita akan melihat bagaimana pasangan sahabat nabi itu bekerja sama dengan sangat baik dalam beramal shalih.

Sampai di rumah, Abu Thalhah berkata ke istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah!” Istrinya menjawab, “Kita tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.”

Abu Thalhah berkata, “Siapkanlah makanannya, nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kita kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, Ummu Sulaim pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.

Saat makanan siap disajikan, Abu Thalhah bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu padahal sebaliknya, dia memadamkannya. Sambil bergelap-gelap, kedua suami-istri itu memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sahabat Abu Thalhah datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tadi malam Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat,

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798).

Ma’asyirol muslimin rahimaniallahu wa iyakum

2) Keluarga Sebagai Pewaris Iman

Hal berikutnya yang dapat kita lakukan demi menghindari kebinasaan adalah menanamkan nilai-nilai keimanan kepada anak dan istri kita. Keimanan yang ditanamkan dengan baik akan menghasilkan ketenangan dan ridha Allah di dalam rumah.

Ada banyak amal shalih yang bisa diajarkan mulai dari dalam rumah. Amal shalih yang diajarkan itu sebagaimana amal shalih yang diajarkan Luqmanul Hakim kepada keluarganya.

Di dalam Surat Luqman ayat 13 dapat kita lihat bagaimana seorang ayah mengajarkan kepada anaknya agar selalu menjaga iman, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Allah berfirman,

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)

Tidak berhenti sampai di situ, dalam momen interaksi Luqman kepada anaknya juga mengajarkan kita persoalan penting lainnya, seperti berbakti kepada kedua orang tua, bersyukur kepada Allah, perintah untuk melaksanakan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, serta keshalihan sosial kepada sesama agar kita menjauhi sifat sombong.

Di ayat 16 dari surat Luqman, terekam dengan indah satu kalimat penting, Luqman berkata,

يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.” (QS. Luqman: 16)

Interaksi keluarga yang kita harapkan adalah sebagaimana interaksi Luqman dengan keluarganya. Kebersamaan keluarga yang bukan sekadar tinggal serumah, bukan sekadar hidup, tidur dan makan bersama-sama, melainkan lebih dari itu, yakni menjadikan keluarga sebagai suasana penuh dengan iman, serta menjadikannya selalu berada dalam kebaikan.

Sebagai penutup dalam khutbah siang hari ini, khatib ingin mengutip satu hadits dari baginda Rasululullah sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sebagai pelengkap dari apa yang khatib sudah sampaikan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

 رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، فَصَلَّى وَأيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإنْ أبَتْ نَضَحَ في وَجْهِهَا المَاءَ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ، فَصَلَّتْ وَأيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإن أبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ.

“Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya.” (HR. Abu Daud, AN-Nasai, dan Ibnu Majah)

Semoga Allah merahmati dan memberikan petunjuk selalu dengan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat membangun keluarga yang diridhai dan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA 

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyirol muslimin rahimaniallahu wa iyakum

Marilah kita menutup khutbah jum’at pada siang ini dengan berdoa kepada Allah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk ibadah kepada-Nya; dan menjaga kita dari segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya. Kita berdoa agar Allah mengaruniakan kita kesehatan, serta menjaga kita dari segala mara bahaya. Amin.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَوَسِّعْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَا أَعْطَيْتَنَا، وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا زِيَادَةً فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation