— Ditulis oleh: Ust. Fajar Jaganegara, M.H.I.
Tahun 9 Hijriyah. Cahaya Fajar pagi itu baru merayap di punggung-punggung bukit yang menghimpit di jalur sempit lembah Hunain. Dua belas ribu pasukan kaum muslimin berjalan dipimpin sang Nabi ﷺ bersiap menuju gelanggang pertempuran melawan Tsaqif dan Hawazin.
Tidak pernah pasukan Islam datang sebesar jumlah mereka di hari itu. Dada mereka penuh rasa percaya diri, sebakda Makkah dibebaskan tanpa tumpah darah, rasanya tidak ada lagi halangan berarti untuk menundukkan sisa-sisa kabilah yang masih melawan.
Bisik-bisik lirih terucap penuh keyakinan, “Dengan Jumlah Sebanyak ini, kita tidak akan terkalahkan” terdengar seperti kalimat manis penuh optimis, bagaimana tidak, pertempuran-pertempuran sebelum ini, kaum muslimin selalu datang dengan jumlah yang jomplang; jauh lebih sedikit dari lawan-lawannya, dan mereka bisa pulang dengan kemenangan.
Tanpa banyak yang menyadari bahwa perasaan yang muncul adalah sebuah kealpaan. Keyakinan keliru yang justru jadi sebab pasukan besar ini kocar-kacir. Rasa optimis yang membuat rasa tawakal terkikis.
Perang Hunain jadi episode di mana Allah Ta’ala memberikan pelajaran mahal kepada kaum muslimin, bahwa kemenangan tidak pernah hanya soal perhitungan matematis dan langkah-langkah strategis. Ada hal lain yang tidak dapat dihitung oleh akal manusia; yaitu tentang bagaimana menggantungkan harapan dan kekuatan hanya kepada Allah yang Maha Kuasa dan Perkasa.
Allah mengabadikan momen itu dengan ayat yang memberikan pelajaran dan sekaligus sentilan:
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا
“Sungguh Allah telah menolong kalian di banyak medan perang, dan pada hari Hunain ketika jumlah kalian membuat kalian kagum, tetapi jumlah itu sama sekali tidak memberi manfaat.” (QS. At-Taubah: 25)
Tawakal: Keteguhan Hati & Keberanian Sejati
Medan perang adalah tempat di mana jiwa dan raga seseorang benar-benar ditempa. Di bawah bayang-bayang pedang dan kematian akan tampak secara nyata siapa yang memiliki jiwa teguh berani, dan siapa yang pengecut dan lari.
Jumlah pasukan gabungan Tsaqif dan Hawazin tetap lebih banyak; 20.000 pasukan, ditambah penguasaan medan tempur yang telah mereka kenal dan hafal. Hawazin adalah suku badui dengan kemampuan memanah yang cakap, mereka mengisi ceruk-ceruk bukit bersembunyi menunggu pasukan muslimin masuk ke jalur lembah yang menyempit, mereka melepaskan panah pancingan yang tujuannya agar pasukan muslimin semakin masuk ke dalam agar terjepit di antara dua bukit; dan saat itu pasukan Tsaqif siap menggempur di depan dan menembakkan panah dari perbukitan. (lihat: Muhammad SAW, Yasir Qadhi, h.520)
Kekacauan pecah. Pasukan muslim terlambat menyadari serangan, gempuran dahsyat membuat pasukan lari tunggang langgang, khususnya mereka yang baru-baru masuk Islam, mereka sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu mengenang tegangnya suasana di hari itu, “Kami berlarian menyelamatkan diri. Tapi Rasulullah ﷺ tidak berlari mundur, musuh menghujani kami dengan tembakan panah sehingga orang banyak yang terluka. Aku menyaksikan Rasulullah bersama Abu Sufyan bin Harits yang memegang tali kendali bighal putih beliau. Hanya segelintir sahabat yang tetap bersama Nabi ﷺ; Abu Bakar, Umar, Ali, Abbas dan beberapa lainnya.
Kondisi benar-benar genting, tapi Nabi ﷺ tidak bergeming. Beliau menunjukkan keteguhan hati dan keberanian yang sulit dicari bandingannya. Beliau meneriakkan:
هَلُمُّوا إلَيَّ، أَنَا رَسُولُ اللَّهِ، أَنَا النَّبِيُّ لاَ كَذِبْ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ
“Berkumpullah di sisiku. Aku Rasulullah. Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan surat at-Taubah: 25 dan mengulas pertempuran ini, ia menjelaskan arti keteguhan hati Nabi ﷺ di hari itu:
“Ini merupakan salah satu puncak keberanian yang paling agung. Sebab pada hari seperti itu, di tengah berkecamuknya peperangan, sementara manusia telah tercerai-berai meninggalkannya, beliau ﷺ tetap menunggangi seekor bighal, yang bukan kendaraan untuk menyerbu ataupun mundur dengan cepat, bahkan tidak cocok untuk itu. Namun dalam keadaan demikian beliau justru maju menghadap musuh, sambil memperkenalkan dirinya sehingga urusannya tidak tersembunyi sedikit pun. Beliau berseru: ‘Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.’ Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/357).
Sebuah cerminan keyakinan yang sangat kokoh kepada Allah Ta’ala, bahwa Allah menjanjikan kemenangan dan penjagaan, maka tidak ada celah untuk mundur meski selangkah, seakan Nabi ﷺ menyampaikan pesan, “Jika hari ini adalah hari kematianku, maka aku akan mati di tempat yang telah Allah tetapkan. Tetapi jika Allah menjanjikan kemenangan, maka tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu menghalanginya.”
‘Abbas; paman Nabi, diminta berteriak menyeru pasukan tersisa yang masih setia. Teriakannya menggema dari dinding bukit ke dinding bukit, memanggil para sahabat yang pernah berbaiat di bawah pohon Ridwan, memanggil kaum Muhajirin, memanggil kaum Anshar dengan panggilan yang hanya dapat dimengerti oleh hati-hati yang pernah ditempa bersama Nabi ﷺ. Satu demi satu kepala menoleh. Mereka mengenali suara itu. Mereka sadar bahwa Nabi ﷺ tidak mundur sedikit pun.
Perlahan tapi pasti. Para sahabat segera mendekat pada sumber suara, memasang barikade melindungi Nabi ﷺ, mereka telah berjanji setia untuk selalu membela dan siap mati, maka tidak mungkin mereka lari menyelamatkan diri saat Nabi ﷺ bertahan sendiri.
Ritme pertempuran berubah, angin kemenangan beralih pada kaum muslimin. Gema takbir sahut menyambut menggetarkan lembah Hunain, Tsaqif dan Hawazin kehilangan momentum dan terpukul mundur. Mereka melarikan diri kembali ke Thaif, berlindung ke dalam benteng mereka. Pertolongan Allah atas Nabi-Nya turun dan janji-Nya tertunaikan, bahwa orang-orang beriman akan dimenangkan.

Mengapa Maghazi Nabi ﷺ harus Diwariskan?
Hunain akan selalu dikenang bukan sebagai perang yang dimenangkan oleh dua belas ribu pasukan, tapi sebagai hari ketika Allah menunjukkan betapa lemah manusia saat bergantung hanya kepada jumlah, dan betapa kuatnya seorang hamba ketika seluruh sandarannya hanya kepada Allah.
Episode ini juga mengajarkan arti keberanian dan keteguhan hati yang sesungguhnya. Saat pasukan lari ketakutan sebab serangan, Nabi ﷺ tidak surut meski selangkah. Keberanian Nabi ﷺ pada hari itu bukanlah keberanian seorang yang tidak mengenal bahaya, melainkan keberanian seorang Nabi yang sunguh-sungguh mengenal Rabb-nya.
Maghazi Nabi ﷺ, Jelas Prof. Faruq Hamadah, adalah bagian yang selalu jadi perhatian para sahabat dan generasi pertama umat ini, sebagai sarana untuk mewariskan kehormatan dan kebanggaan kepada anak-anak mereka.
Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib rahimahullahu mengatakan:
كُنَّا نَعْلَمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَرَايَاهُ كَمَا نَعْلَمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Dahulu kami mempelajari peperangan-peperangan (maghāzī) Nabi ﷺ dan ekspedisi militer beliau, sebagaimana kami mempelajari satu surah dari Al-Qur’an.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi, 2/195)
Inilah sebab kenapa kisah-kisah perjuangan Nabi ﷺ selalu penting diajarkan dan diwariskan. Karena kisah-kisah ini adalah ayat-ayat yang berbicara. Di sana ada pelajaran tentang iman, ada teladan tentang keteguhan dan keberanian, dan ada nilai-nilai menjadi hamba seutuhnya.




