Sejenak Bersama Nabi: Kerendahan Hati Meluluhkan Hati

Sejenak Bersama Nabi: Kerendahan Hati Meluluhkan Hati

“Wahai Muhammad, duhai pemimpin kami, putra junjungan kami, dan kau orang terbaik kami, putra dari orang terbaik kami.”

Sanjungan dan pujian mengalir dari lisan seorang lelaki di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam makhluk Allah yang terpuji, pantas dengan segenap pujian yang diutarakan. Tapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tampak tidak menyenanginya. Nabi berdiri kemudian bersabda:

“Wahai segenap manusia, perhatikanlah ucapan kalian. Jangan sampai setan mengelincirkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba dan rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka diperlakukan lebih dari yang telah Allah tetapkan untukku.”

Kata-kata yang jujur itu meluncur dari lisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, ia tidak nyaman diperlakukan berlebihan, bukan karena beliau tidak pantas, namun demikianlah tawadhu’ bersemayam di dalam jiwanya agar kerendahan hati itu menjadi teladan bagi manusia.

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim)

Seakan menjadi ketentuan Allah,  bahwa mereka yang dianugerahkan kemuliaan justru tidak melihat hal tersebut menjadi sesuatu yang perlu ditonjolkan pada khalayak, maka benarlah yang dikatakn Imam asy-Syafi’I rahimahullah:

أَرفَعُ النّاسِ قَدْرا مَنْ لَا يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلًا مَنْ لَا يَرَى فَضَلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 6/304)

 

Merendah Untuk Meninggi

Banyak manusia mencari penghormatan dan ingin ditinggikan dengan cara merendahkan selainnya. Padahal kehormatan tidak akan pernah lahir dari kesombongan dan sikap jumawa. Justru semakin tawadhu’ seorang hamba, semakin tinggi kedudukannya di hadapan Allah. Dawuh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan (pasti) Allah akan mengangkat derajatnya“. (HR Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah memberikan anotasi atas hadis ini, ada dua makna dalam kandungannya. Pertama, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan menguatkan sifat tawadhu’ di dalam hatinya, hingga derajatnya menjadi tinggi di mata manusia. Kedua, sebab ketawadhu’annya di dunia menjadi sebab diberikan pahala baginya di akhirat. (Syarh Shahih Muslim, 16/142)

Mari takjubi sejenak kerendahan hati Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa salam. Diriwayatkan Imam al-Bukhari bahwa seorang budak perempuan di suatu saat menarik tangan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, mengajak berkeliling kota Madinah untuk dipenuhi hajatnya.

Dalam catatan lain budak wanita ini kurang sempurna akalnya.Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dengan ringan dan riang mengikuti keingingan budak tersebut. Tanpa sungkan, tanpa gengsi atau gestur tubuh tak nyaman. Dengan kerendahan hati dan seulas senyum yang tulus Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam  bertutur:

“Ya Fulanah. Mari tunjukkan jalan yang kau mau, hingga aku bisa penuhi yang menjadi kebutuhanmu.” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berjalan bersama wanita tersebut dengan ringan dan tanpa sungkan hingga ia merasa telah dicukupkan apa yang ia butuhkan.” (HR. Muslim)

Adakah di antara kita yang berkenan berjalan bersama seseroang yang tidak genap pikirannya? Riang dan tenang berjalan bersamanya? Tetap menghormatinya dan memenuhi hajat kebutuhannya tanpa ada kata yang menyakiti dan merendahkan diri?

Adakah akhlak semisal Nabi?!

Akhlak Yang Melekat, Bukan Dibuat-buat

Kelembutan jiwa dan kerendahan hati yang ditunjukkan Nabi itu orisinal dan natural. Bukan sebuah laku yang dibuat-buat atapun basa-basi saat berinteraksi. Bagaimana mengetahui seseorang itu benar-benar rendah hati dan penuh kelembutan. Maka tanyakan pada mereka yang banyak menghabiskan waktu bersamanya, atau berada di bawah perintah dan kuasanya.

Seorang pejabat akan ringan tersenyum saat bersama tamu, akan mudah lembut bersikap saat menyambut, tapi apakah sikapnya sama saat bicara dengan ajudan atau pembantunya? Apakah tuturnya tetap lembut dan hangat pada mereka yang bukan siapa-siapa? Mungkin ada yang bisa, tapi banyak yang tidak.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengenang kebersamaannya selama 10 tahun menjadi khadim Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:

لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَشَرَ سِنِيْنَ, فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا قَالَ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟, وَلَا لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟

“Sungguh aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku sekalipun, “Aah”, tidak pernah berkomentar tentang apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan ini? dan tentang apa yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan demikian ini” (Muttafaqun ‘alaih)

Sepuluh tahun waktu yang cukup untuk mengetahui watak dan tabiat asli seseorang. Betapa banyak mereka yang bersikap manis di awal pertemuan, lalu dalam perjalanan waktu semua tersingkap, menampakkan wujud asli dari perangainya.

Seperti yang dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya’, bahwa ahklak adalah yang menetap di dalam jiwa seseorang, kemudian terpancar di dalam prilaku, dan suluk tersebut muncul tanpa perlu upaya yang sulit dan rumit. Mengalir begitu saja. Demkianlah tawadhu’ menjadi akhlak Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Keindahan akhlak adalah perhiasan bagi pemiliknya, sebagai penyambung lidah dan penyampai risalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ditaklif secara sosial, bahwa akhlak yang buruk tidak akan bisa menyentuh hati manusia sekalipun kebenaran yang dibawa.

Pelajaran mahal bagi setiap muslim dalam interaksi sosial, bahwa mereka adalah duta-duta Islam pada sesama. Sebelum manusia melihat al-Quran dan membaca hadis, yang mereka akan lihat adalah perangai dan akhlak saat membersamai mereka.

Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, sahabat dekat sekaligus menantu Nabi dua kali. Mengenang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai pribadi yang welas asih dan gemar membersamai mereka yang bukan “siapa-siapa’.

“Demi Allah, kami membersamai Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam perjalanan dan saat bermukim, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam biasa menjenguk dari kami yang sakit, ikut mengiringi jenazah, berperang bersama kami, dan melipur lara dengan (harta) sedikit ataupun banyak” (HR. Ahmad)

Menyentuh hati manusia harus dengan merendahkan hati, bukan meninggikan diri. Karena kelembutan itu mendekap dan mendekatkan. Sedangkan keangkuhan melahirkan bendi dan membuat manusia lari.

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

“Maka, berkat rahmat Allah, engkau dapat berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh darimu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka…” (QS. Ali Imran: 159)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation