Mari sejenak bersama Nabi di hari-hari terakhir Ramadhan, sembari merenungi riwayat-riwayat tentang apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam perbuat, lalu jadikan nukilan-nukilan itu sebagai cermin besar tempat berkaca; melihat perbedaan antara apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam lakukan dan apa yang kita kerjakan.
“Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam selalu I’tikaf pada sepeluh malam yang akhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat.” Kenang ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana yang termaktub dalam Shahihain, sebuah kenangan taat yang direkam jelas oleh sang Istri, tampaknya hal tersebut sangat berkesan di hati Ibu kita radhiyallahu ‘anha
Kenangan indah tersebut pastilah amat membekas pada sanubari ‘Aisyah, ingatan itu masih hangat bagaimana ia menyisir rambut Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ketika beliau sedang I’tikaf dengan mengambil tempat bersebelahan dengan kamarnya.
I’tikaf adalah ibadah yang selalu dijaga oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, nyaris tidak pernah ditinggalkan, kecuali pada satu kesempatan beliau tidak sempat melaksanakannya, akan tetapi diqadha’ pada awal bulan Syawal sebagaimana tercatat dalam Shahihain.
Durasi I’tikaf Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam selalu 10 hari yang akhir di bulan Suci, kecuali satu kali di tahun 10 Hijriyah, tahun terakhir Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjalankan I’tikaf; durasinya bertambah menjadi 20 hari; seakan jadi isyarat bahwa ajal sang Nabi sudah dekat.
Mencari Malam Mulia
Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, punya ingatan yang jelas tentang bagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam beri’tikaf demi mencari malam mulia yang setara dengan seribu bulan, “..pada mulanya beliau beri’tikaf di sepuluh pertama, kemudian beliau beri’tikaf di sepuluh yang kedua, hingga di satu masa saat beliau beri’tikaf dalam sebuah tenda Turki dengan pintu berwana hijau, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengeluarkan kepalanya dan bersabda:
إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ اْلأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ اْلأَوْسَطَ، ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ.
“Aku beri’tikaf pada sepuluh malam pertama demi mencari malam mulia ini (lailatul Qadar). Kemudian aku kembali I’tikaf pada sepuluh malam kedua, lalu aku didatangi seseorang (malaikat) dan mengatakan kepadaku bahwa malam mulia itu ada di sepuluh malam yang akhir. Barangsiapa di antara kalian yang hendak beri’tikaf, maka lakukanlah”
Lailatul qadr adalah keistimewaan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, sebuah malam dengan nilai seribu bulan, malam di mana Allah menurunkan kitab-Nya dari lauh mahfudz ke baitul ‘izzah. Di malam itu, para malaikat memenuhi bumi untuk memuji-Nya dan mendoakan hamba-hambaNya, juga menurunkan ketetapan takdir makhluk-makhlukNya.
Keajaiban dan semua keistimewaan ini dijelaskan dalam surat al-Qadr, di mana Allah berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْر, ِوَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam tidak ingin umatnya melewatkan keberkahan dan kebaikan sebesar ini, momentum tahunan yang tidak sepatutnya dilewatkan, begitulah cinta Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam pada umatnya; menghantarkan hidayah petunjuk bagi mereka.
“Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil pada sepuluh terakhir Ramadhan” jelas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memberi isyarat, bahwa malam istimewa ini dirahasiakan, terselip di antara malam-malam ganjil yang akhir di penghujung bulan suci.
Apa yang harus Dilakukan?
Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ingat betul kebiasaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam jika memasuki sepuluh terakhir bulan suci, “Adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam saat memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan; mengencangkan ikat sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam benar-benar membatasi diri dari sekitarnya, termasuk istri dan keluarganya, khusuk dalam tafakkur dan ibadahnya, menyendiri dalam sunyi di malam-malam gelap dalam tirai-tirai yang dibuat. Malam-malam Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam hidup dengan khalwat bersama Khaliq, dan menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan makhluk.
Mungkin itulah esensi sesungguhnya dari I’tikaf yang selalu dilazimi Nabi di setiap akhir bulan suci. Sepuluh hari untuk membersihkan jiwa dan hati dalam kesendirian dan kesunyian, menjauh dari semua hal-hal yang bersifat duniawi; istri, keluarga, pekerjaan dan segenap kesibukan, yang telah banyak menyita perhatian hati manusia dari Allah Ta’ala.
Ibnu Qayyim saat membincang I’tikaf Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan anotasi menarik dalam Zaadul Ma’ad, bahwa I’tikaf adalah proses “kalibrasi” meluruskan hati agar kembali hanya kepada Allah, hati-hati yang kusut dan berantakan dirapikan kembali dengan khalwat bersama Allah.
Berikut penyebab-pernyebab hati menjadi kusut harus dihilangkan; banyak menyantap makanan dan minuman, banyak interaksi dengan manusia dan pembicaraan, dan banyak terlelap dalam tidur adalah hal-hal yang membuat hati manusia menjadi kusut.
I’tikaf adalah obat, merehatkan hati dari segenap kesibukan duniawi dan khusuk menyiapkan diri untuk ukhrawi. I’tikaf Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kita bahwa healing bagi seorang hamba adalah menyendiri bersama Rabbnya.
Ada selarik doa yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam untuk banyak dibaca agar seseorang ditepati malam mulia:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf lagi Pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Maka, maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)






