— Ditulis oleh: Ust. Fajar Jaganagera, S.Pd., M.H.I.
Kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Kedatangannya adalah sebuah kepastian, meski banyak dari hal yang tidak kita sukai tiba pada waktu yang tidak pernah kita duga, menusuk relung hati terdalam, membekukan hati dan perasaan, sejenak kita seakan ditarik ke dimensi lain; ruang hampa kesedihan.
Seorang wanita bersimpuh di sebuah kuburan berukuran lebih pendek dari pada umumnya pekuburan. Wajahnya tertunduk khusyuk, desis tangisnya terdengar cukup keras, jelas sekali batinnya sedang bergolak dihempas gelombang sedih sebab kepergian anaknya yang terkasih.
Anas bin Malik jadi saksi cuplikan kisah ini, Nabi ﷺ melewati ibu tersebut, tangisnya sudah pecah, nyaris menjadi ratapan yang terlarang. Maka Nabi ﷺ mendekat dan berbicara dengan hati-hati:
“Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah..”
Tanpa berpaling demi ingin tahu suara siapa yang baru saja ia dengar, ibu tersebut dengan ketus masih dengan suasana sedih dan tangis di wajahnya. Ia berkata: “menyingkirlah! Kau tidak tahu musibah apa yang menimpaku.” Kalimatnya tegas; tidak ingin diganggu, dia masih tenggelam dalam gulana hatinya.
Sahdan Nabi ﷺ meninggalkan wanita tersebut dengan kesedihannya, hingga seseorang menghampirinya dan mengabarkan bahwa sosok yang dia abaikan adalah Nabi ﷺ. Betapa terkejutnya dia, dan segera sadar kata-kata ketus yang ia ucapkan ditujukan pada sosok yang paling ia muliakan.
Bergegas ia menuju rumah Nabi ﷺ demi meminta maaf dan menjelaskan keadaannya. Nabi ﷺ bersabda menasihatinya: “Kesabaran itu adalah saat musibah pertama kali menimpa” (HR. al-Bukhari & Muslim)
Seseorang disebut sabar dan tegar itu dilihat pada saat pertama musibah menimpa. Reaksi pertama yang ditunjukkan adalah ukuran nilai sabar seseorang. Jika saat musibah tiba, hatinya ridha, lisannya terjaga dan kesedihan tidak membuatnya bertindak durhaka, maka itu disebut sabar yang diganjar pahala besar.
Adapun sesudah terjadinya musibah, hati cenderung mulai terbiasa dan mulai lupa. Demikianlah kesabaran yang terpuji, tegar saat musibah datang pertama kali, demikian jelas al-Khattabi dalam Fathul Bari.
1) Tutup Celah Setan di Hatimu
Hati sering terguncang saat sesuatu yang tidak menyenangkan dialami seseorang. Hati cenderung membawa suasana jiwa pada hal-hal yang menambah rasa musibah; kesal, marah, sesal dan benci, datang berdesakan memenuhi relung hati seseorang.
Maka nasehat adalah obat, pertolongan pertama untuk mereka yang sedang guncang jiwanya. Karena setan sedang datang untuk meniupkan keputusasaan dan tidak rela terhadap apa yang telah Allah Takdirkan.
Nabi ﷺ memberi arahan agar celah-celah datangnya hasutan setan itu segera ditutup rapat.
Nabi ﷺ bersabda:
“Jika kau tertimpa suatu musibah, maka janganlah kau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian’. Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi’. Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu setan.” (HR Muslim)
Pintu setan ini mengarah pada hilangnya rasa ridha atas apa yang telah Allah tetapkan. Dan ini adalah ekspresi putus asa dari Rahmat Allah. Padahal musibah adalah salah satu instrumen yang Allah jadikan sebagai jalan untuk lebih dekat dengan-Nya.
Nabi ﷺ dalam kesempatan lain mengatakan bahwa musibah adalah “surat cinta” dari Allah, sebuah undangan khusus untuk bergabung di barisan orang-orang pilihan-Nya.
“Besarnya pahala bergantung dengan besarnya ujian, dan jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya. Siapa saja yang ridha dengan itu, Allah akan meridhainya. Jika dia murka dengan ujiannya, maka Allah juga akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
Saat musibah tiba, perhatikan apa yang kita ucapkan agar hati bersandar sesuai dengan tuntunan. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu terkenang di suatu hari datang seseorang membawa pesan dari salah satu putri Nabi ﷺ, sebuah kabar duka yang menggelisahkan: “Anakku hampir meninggal dunia, datanglah kepada kami.”
Nabi ﷺ segera mengirim pesan balasan untuk mengarahkan hati putinya pada sandaran yang benar: berserah kepada Allah atas ketetapan takdir-Nya. Bahwa ajal mutlak menjadi keputusan Allah Ta’ala. Nabi ﷺ mengatakan:
إنَّ للَّهِ ما أخذَ ولَهُ ما أعطى وَكُلُّ شيءٍ عندَ اللَّهِ بأجَلٍ مُسمًّى ، فلتَصبِرْ ولتَحتسِبْ
“Sesungguhnya milik Allah apa yang telah Dia ambil dan milikNya apa yang telah diberikan, segala sesuatu telah ditentukan ajalnya disisi Allah, maka hendaknya kau bersabar dan berharap pahala.” (HR. al-Bukhari & Muslim)
Adapun mereka yang benar-benar pasrah dan berserah, hati mereka ridha atas apa pun yang Allah tuliskan atas mereka, maka ampunan dan rahmat Allah dicurahkan untuk mereka.
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-157)

2) Gagal Bersabar Sebab Pikiran
Apa yang menyebabkan kita gagal bersabar saat musibah datang menimpa? Kenapa kita gagal menguatkan hati saat diuji? Kegagalan kita untuk bersabar saat didera musibah dimulai dari gagalnya kita melihat musibah itu sebagai anugerah.
Mindset berpikir yang benar akan membentuk sikap benar. Jika seseorang berhasil menemukan alasan bersabar maka ia akan melewati musibah dengan tegar. Sebaliknya jika kita gagal menemukan alasan bersabar, maka kita sudah gagal sejak langkah pertama.
Penting memiliki POV yang benar dalam memandang musibah, mari lihat bagaimana Nabi ﷺ melihat ujian sebagai sebuah cara Allah menghapuskan dosa para hamba.
“Untuk setiap kesulitan, penyakit, gelisah, duka cita, bahaya maupun derita yang dialami seorang muslim, bahkan duri yang menusuk kaki. Allah akan menghapuskan dosa untuknya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Pada akhirnya, takdir menjadi hamba adalah diuji. Tanpa ujian semua manusia akan sama, tidak ada bedanya. Hanya lewat ujian; musibah dan cobaan, akan tampak siapa permata dan siapa tanah liat biasa.
Jiwa manusia diuji lewat ujian, nilainya akan terlihat lewat cobaan. Mereka yang berjiwa besar akan menampungnya dengan tegar, mereka yang berjiwa kerdil menganggap musibah seperti kiamat kecil. Seperti yang dikatakan al-Mutanabbi salam syairnya:
“Setinggi tekad seseorang, sebesar itu pula ujian datang menghampiri. Dan sebesar ukuran kemuliaan, sebesar itu pula karunia mendatangi. Perkara kecil menjadi besar di mata mereka yang berjiwa kerdil, dan perkara besar tampak kecil di mata mereka yang berjiwa besar.”
Cukuplah firman Allah Ta’ala sebagai pengingat:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut:2)



