Ilmu dan Adab, Mana yang Lebih Dulu?

Ilmu dan Adab, Mana yang Lebih Dulu?

1) Pendahuluan

Pertanyaan “mana yang lebih dulu, ilmu atau adab?” sering kali muncul dalam diskusi keislaman, terutama dalam konteks pendidikan dan pembinaan karakter. Pertanyaan ini bukan sekadar akademik, tetapi menyentuh inti persoalan umat: bagaimana membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur akhlaknya.

Dalam tradisi Islam, ilmu dan adab tidak pernah dipisahkan. Para ulama tidak mengajarkan ilmu di ruang kosong, melainkan dalam bingkai pembentukan kepribadian dan akhlak mulia murid-muridnya. Sebab, ilmu dalam pandangan Islam bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, adab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses menuntut ilmu.

Namun, ketika masyarakat modern menempatkan ilmu dalam kerangka sekuler—terpisah dari nilai-nilai moral dan spiritual—maka adab mulai terabaikan. Akibatnya, muncul fenomena orang berilmu tinggi tetapi kehilangan rasa malu, sopan santun, kebijaksanaan, dan bahkan menggunakan ilmunya untuk kepentingan yang salah. Di sinilah pentingnya mengembalikan keseimbangan antara ilmu dan adab, serta memahami mengapa para ulama menegaskan bahwa adab harus lebih diutamakan daripada ilmu.

2) Kenapa Adab Lebih Dulu dari Ilmu

Dalam kajian para ulama, ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Imam al-Nawawi dalam kitabnya, Majmû‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 1/20, menukil ungkapan Imam Syafi’i, bahwa “Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah; tidak ada amalan setelah amalan fardhu yang lebih utama daripada menuntut ilmu”. Beliau juga berkata, “Barang siapa menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah ia meraihnya dengan ilmu; dan barang siapa menginginkan (kebahagiaan) akhirat hendaklah ia juga meraihnya dengan ilmu”.

Namun demikian, para ulama menegaskan bahwa adab adalah pintu masuk bagi ilmu. Imam Darul Hijrah, yaitu: Imam Malik dalam Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Aṣfiyâ, 6/330 karya al-Ashbahani, pernah menasihati seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. Demikian pula, Umar bin Khattab dalam al-Âdab al-Syar‘iyyah wa al-Manḥ al-Mar‘iyyah, 3/55 karya Al-Maqdisi, pernah berpesan, “Perbaikilah adab kemudian belajarlah ilmu.”

Senada dengan ungkapan tersebut, Abdullah al-Mubarak dalam Ghâyah al-Nihâyah fî Ṭabaqât al-Qurrâ’, 1/446, karya al-Jazari, menegaskan pentingnya adab dalam perjalanannya menuntut ilmu, “Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan saya mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. Sesungguhnya mereka mempelajari adab kemudian masalah ilmu”. Selain itu, Imam Ibnu Mubarak dalam Madâriju as-Sâlikîn baina Manâzil Iyyâk Na‘budu wa Iyyâk Nasta‘în, 2/356, karya Ibnu Qayyim, juga pernah berkata, “Kami lebih membutuhkan adab yang sedikit daripada banyaknya ilmu”

Semua ungkapan tersebut menunjukkan bahwa adab menempati posisi yang sangat utama. Namun, penegasan itu bukan berarti ilmu menjadi kurang utama. Keduanya merupakan satu kesatuan yang harus ada pada setiap diri manusia. Ilmu tanpa adab, atau sebaliknya, adab tanpa ilmu tidak akan dapat menghantarkan seorang menuju kesuksesan dunia-akhirat. Keduanya harus ada untuk menyelamatkan seseorang dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا”

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Aẓîm, 8/167, menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib memaknai perintah Allah, “Qû Anfusakum wa Ahlîkum Nârâ”, dengan “Addibûhum wa ‘Allimûhum”, artinya, didiklah mereka agar beradab dan ajari mereka ilmu. Perkataan ini menegaskan bahwa adab dan ilmu merupakan dua pilar utama keselamatan manusia dari api neraka.

Untuk itu, adab dan ilmu  merupakan perkara yang sangat penting. Yusuf bin Husain, dalam Iqtiḍâ’ al-‘Ilmi al-‘Amal, hlm. 31, karya al-Baghdadi, pernah berkata, “Dengan adab engkau akan memahami ilmu”. Hal ini karena seseorang yang beradab kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan lancang mendahului keduanya, melainkan menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman. Demikian pula, seseorang yang beradab dengan para salafus shalih akan senantiasa mengikuti jejak mereka. Mengikuti wahyu, Rasulullah, dan para salafus shalih inilah merupakan sumber utama memperoleh ilmu pengetahuan yang benar.

3) Pengutamaan yang Tidak Dikotomis

Mengutamakan adab sebelum ilmu tidak berarti memisahkan keduanya secara dikotomis. Sebaliknya, hal itu menegaskan bahwa adab dan ilmu memiliki hubungan yang saling melengkapi. Adab bukan pengganti ilmu, dan ilmu bukan lawan bagi adab. Keduanya harus berjalan beriringan agar menghasilkan pribadi yang utuh: berilmu yang berakhlak, dan beradab yang berpengetahuan.

Adab berfungsi sebagai landasan moral dan spiritual dalam menuntut ilmu, sedangkan ilmu berperan sebagai panduan rasional dan praktis untuk memperkuat adab. Ketika seseorang memiliki adab yang baik tanpa dibekali ilmu, ia dapat terjebak dalam ketidaktahuan yang berakibat pada kesalahan dalam beramal. Sebaliknya, ilmu tanpa adab akan menumbuhkan kesombongan dan penyimpangan moral. Oleh karena itu, keseimbangan antara keduanya menjadi kunci keberkahan dalam kehidupan.

Contoh keseimbangan ini tampak jelas dalam ajaran Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Muhammad ayat 19:

“فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ”

            “Maka ketahuilah (dengan ilmu), bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.”

Ayat ini menunjukkan keseimbangan antara adab dan ilmu. Keyakinan kepada Allah adalah bentuk adab tertinggi seorang hamba kepada Rabb-Nya, namun untuk beriman secara benar, ia harus memiliki ilmu sebagaimana perintah dari ayat tersebut. Selain itu, ayat di atas juga dapat dimaknai bahwa perintah “fa’lam” (ketahuilah) menunjukkan pentingnya ilmu, sedangkan perintah “wastaghfir” (mohonlah ampunan) mencerminkan adab seorang hamba yang rendah hati di hadapan Rabb-Nya. Dengan demikian, adab dan ilmu tidak bisa dipisahkan.

4) Penutup

Dari seluruh paparan di atas dapat disimpulkan bahwa meskipun para ulama menegaskan pentingnya adab sebelum ilmu, keduanya sejatinya tidak dapat dipisahkan. Adab menuntun ilmu agar lurus dan bermanfaat, sementara ilmu memperkuat dan memperluas makna adab itu sendiri. Ilmu tanpa adab akan kehilangan cahaya dan keberkahan, sedangkan adab tanpa ilmu akan kehilangan arah dan kedalaman makna. Keduanya merupakan cerminan Islam yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.

Ditulis oleh: Amir Sahidin, M.Ag — Mahasiswa Doktoral Unida Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation