Memimpin Di Parit Galian : Kisah Sejenak Bersama Nabi:

Memimpin Di Parit Galian : Kisah Sejenak Bersama Nabi:

Mari sejenak bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, tahun kelima hijriyah, saat beliau memimpin para  sahabat lainnya berpeluh keringat di bawah terik matahari padang pasir yang menggigit kulit. Hari-hari yang sulit dan mencekam. Telah sampai kabar kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwa musyrikin Quraisy, kaum Yahudi dan beberapa kabilah telah membangun koalisi, satu kata sepakat untuk menyerang Madinah.

Langkah strategis untuk menghadapi koalisi besar ini segera dibuat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, karena musuh bisa datang menyerang kapan saja. Apapun yang terjadi, Madinah harus siap bertahan dengan risiko apapun, maka digalilah parit besar atas usulan Salman al-Farisi yang membentang dari Harrat Timur ke Harrat Barat, dalam peta hari ini, parit tersebut digali dari Utara Masjid ar-Rayah di Jln. Utsman bin ‘Affan melewati pegunungan Sila’ dan berakhir di Madzad.

Proyek parit ini tidak mudah, dalam catatan Mahdi Rizqullah, panjang parit tidak kurang dsari 5000 hasta, dengan kedalaman 7-9 hasta dan lebar 9 hasta, jika dikonversi panjang galian parit tersebut nyaris 5.500 meter panjangnya, dengan kedalaman 3 meter dan lebar 4 meter, dalam perhitungan Salman, ukuran ini bisa menahan serangan musuh, kuda tidak dapat melompatinya, jika terperosok jatuh sulit untuk naik kembali.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai pemimpin tertinggi dengan cermat mengawasi jalanya pekerjaan, tidak hanya melihat dan memeriksa setiap detailnya, bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam terjun langsung di parit galian, berpeluh, berdebu, lapar, dahaga, serta letih dan lelah bersama sahabat lainnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjadi teladan yang terang bagaimana menjadi pemimpin sesungguhnya.

Sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu mengenang hari sulit tapi indah tersebut, “Kami bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di dalam parit. Kami menggali dengan semangat, memikul puing-puing tanah galian di atas pundak kami” (HR. Al-Bukhari, No. hadis. 3586)

Hari-hari menggali parit adalah hari-hari pelik dan sulit bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat. Kondisi mencekam, cuaca ekstrim dan makanan yang sedikit mewarnai hari-hari tersebut. Anas bin Malik mengenang hari itu sebagai hari berat dengan rasa lapar yang hebat.

“Setiap penggali parit hanya dibekali segenggam gandum dengan campuran sedikit minyak untuk membuat adonan. Mulut-mulut mereka jarang tersentuh makanan, sehingga mengeluarkan aroma tidak sedap.” Dalam ingatan Abu Thalhah, “Waktu itu kami kami mengadu rasa lapar kami, perut kami diganjal dengan batu, tapi ternyata Nabi mengganjal perutnya dengan dua buah batu.” (ar-Rahiq al-Makhtum, 278-279)

Mari sekejap membayangkan kenangan para sahabat di hari-hari itu. Parit galian tersebut adalah madrasah para pemimpin hebat yang kelak akan membawa risalah Islam ke penjuru dunia. Adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, dalam suasana yang sulit seperti itu, tetap menunjukkan ekspresi optimis yang ditularkan kepada para sahabat, sembari bekerja memikul tanah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menyenandungkan bait syair gubahan Ibnu Rawahah:

اللهم لولا أنت ما اهتدينا … ولا تصدقنا ولا صلينا

فأنزلن سكينة علينا … وثبت الأقدام إن لاقينا

إن الألى قد بغوا علينا … وإن أرادوا فتنة أبينا

Ya Allah, kalau bukan karena Mu tentu kami tidak mendapat petunjuk…

Tidak sedekah, tidak pula shalat…

Maka turunkanlah kepada kami ketenangan….

kokohkan kaki kami saat berperang….

Para kerabat kepada kami berbuat aniaya….

jika mereka menginginkan fitnah kami mengabaikannya….

kemudian Nabi mendoakan para sahabat penggali parit:

اللهم إن العيش عيش الآخره … فاغفر للأنصار والمهاجرة

“Ya Allah, kehidupan sesungguhnya dalah kehidupan akhirat, ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin” (HR. Al-Bukhari, hadis No. 2679)

Lalu para sahabat menyambut dengan sebait kata sebagai jawaban:

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا … عَلَى الْجِهَادِ مَا بقينا أبدا

“Kamilah orang-orang yang telah berjanji setia kepada Muhammad, untuk selalu berjihad selama kami hidup selamanya”

Inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, qudwah kita dalam beramal, pemimpin yang tidak sungkan berada di dalam parit menggali tanah, memikul batu, berdebu, lapar sebagaimana yang lain lapar, letih sebagaimana yang lain letih. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam punya tangan yang sama kotornya dengan sahabat yang lain.

Syaikh Muhammad al-Ghazali mengatakan, “Jangan sekali-kali mengira apa yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam di parit galian dapat kita temui pada pemimpin hari ini. Tidak akan pernah!” Maka, hanya pejuang sejati yang mampu menempuh amal sebagaimana yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Benarlah firman Allah Ta’ala:

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS al-Ahzab:21)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2025 Himayah Foundation