Logo
Tetap Dermawan di Tengah Kesulitan

Tetap Dermawan di Tengah Kesulitan

— Ditulis oleh: Ust. Amir Sahidin, M.Ag

Mahasiswa Program Doktor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor 

Pendahuluan 

Beberapa tahun terakhir, masyarakat menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang tidak ringan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan yang terus meningkat, serta ketidakpastian ekonomi global memberikan tekanan tersendiri bagi banyak keluarga. Tidak sedikit orang yang harus mengencangkan ikat pinggang, menunda berbagai kebutuhan, bahkan berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dalam situasi seperti ini, perhatian seseorang cenderung tertuju pada upaya mempertahankan kondisi dirinya dan keluarganya. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang wajar. Namun, di saat yang sama, kondisi sulit juga menjadi ujian bagi kualitas keimanan dan akhlak seseorang, terutama dalam hal kepedulian sosial dan kedermawanan. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah seseorang masih mampu berbagi ketika dirinya sendiri sedang menghadapi keterbatasan? 

Islam memberikan perspektif yang berbeda dalam memandang persoalan ini. Kedermawanan tidak diukur semata-mata dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari kesediaan hati untuk memberi manfaat kepada orang lain. Oleh karena itu, kesulitan ekonomi bukanlah alasan untuk menghentikan kebiasaan berbagi. Justru dalam kondisi demikian, nilai kedermawanan memperoleh makna yang lebih dalam dan lebih bernilai di sisi Allah Ta’ala. 

Islam bahkan memuji mereka yang tetap memiliki kepedulian sosial di tengah berbagai keterbatasan. Allah Ta’ala berfirman: 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 134). 

Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-Aẓīm 2/103, menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan sifat para ahli surga, yakni mereka yang senantiasa berinfak baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam kondisi bersemangat maupun tidak, ketika sehat maupun sakit, dan dalam segala keadaan. Penjelasan ini menunjukkan bahwa kedermawanan dalam Islam tidak bergantung pada kelapangan rezeki, melainkan merupakan cerminan keimanan yang tetap terjaga dalam berbagai keadaan. 

Konsep Kedermawanan dalam Islam 

Dalam tradisi keilmuan Islam, kedermawanan dikenal dengan istilah sakhā’ dan jūd. Dijelaskan dalam Mausū’ah al-Akhlāq wa al-Sulūk, bahwa sakhā’ adalah kemurahan hati, yaitu sikap mudah memberi ketika diminta tanpa dikuasai sifat kikir. Sementara itu, istilah jūd menunjukkan tingkat kedermawanan yang lebih tinggi, yakni sikap banyak memberi dengan lapang dada tanpa diminta. Kedua sifat kedermawanan ini merupakan akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. 

Terkait hal itu, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtaṣār Minhāj al-Qāṣidīn, menjelaskan bahwa orang yang memperoleh harta, hendaknya ia mengamalkan sifat dermawan (sakhā’), mendahulukan kepentingan orang lain (itsār), serta membiasakan diri berbuat kebaikan. Sebab, kedermawanan merupakan akhlak para nabi dan menjadi salah satu prinsip utama keselamatan. 

Lebih lanjut, Imam Ibnu Qudamah juga menukil hadis dari Jabir, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Jibril a.s. berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Islam adalah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku sendiri. Tidak ada yang dapat memperbaiki dan menyempurnakannya selain kedermawanan dan akhlak yang mulia. Karena itu, muliakanlah Islam dengan keduanya selama kalian berpegang teguh kepadanya.” (HR. Al-Thabrani, no. 8920). 

Selain itu, Rasulullah juga bersabda sebagaimana dinukil oleh Imam al-Suyuthi dalam al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr, no. 2625: 

إنَّ اللهَ تعالى جَوادٌ يُحِبُّ الجُودَ، ويُحِبُّ مَعالِيَ الأخلاقِ، ويَكْرَهُ سَفْسَافَها 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Dermawan dan mencintai kedermawanan. Dia mencintai akhlak-akhlak yang luhur dan membenci akhlak-akhlak yang rendah”  

Baca juga: Wakaf Pembebasan Rumah Dakwah Himayah Foundation

Tidak hanya mengajarkan kedermawanan melalui sabda, Rasulullah ﷺ juga mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari. Imam al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubrā, no. 8515, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan dalam berbuat kebaikan, dan kedermawanan beliau semakin bertambah pada bulan Ramadan. Hadis ini menunjukkan bahwa kedermawanan bukan sekadar ajaran yang disampaikan Rasulullah, tetapi akhlak yang melekat dalam kepribadian beliau dan dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan. 

Tetap Dermawan di Tengah Kesulitan 

Sikap dermawan yang terus dipupuk akan membentuk kepribadian yang tidak berlebihan dalam mencintai harta dan semakin peka terhadap kebutuhan sesama. Pada tingkat yang lebih tinggi, kedermawanan tersebut dapat berkembang menjadi sikap itsār, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain meskipun diri sendiri juga membutuhkannya. Karena itu, itsār sering dipandang sebagai salah satu puncak akhlak sosial dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman: 

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ 

“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. Al-Hasyr [59]: 9). 

Ayat ini menggambarkan kemuliaan kaum Anshar yang rela membantu kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri hidup dalam keterbatasan. Karena itu, para ulama menjadikan itsār sebagai salah satu akhlak sosial tertinggi dalam Islam. Imam al-Sa’di dalam Taisīr al-Karīm al-Raḥmān, halaman 850, menjelaskan bahwa itsār merupakan puncak kedermawanan karena seseorang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri meskipun ia juga sangat membutuhkannya. Dengan demikian, itsār bukan sekadar berbagi, tetapi juga wujud keimanan dan kemuliaan akhlak yang mendorong seseorang mengutamakan kemaslahatan sesama. 

Nilai itsār menjadi semakin relevan di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, seseorang mudah diliputi rasa khawatir terhadap masa depan sehingga cenderung lebih berfokus pada kepentingan dirinya sendiri. Di sinilah itsār hadir sebagai koreksi moral yang mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan sesama.  

Sebaliknya, seorang muslim tetap dituntut untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain sesuai kemampuannya, baik melalui harta, tenaga, ilmu, maupun perhatian. Dengan demikian, itsār tidak hanya menjadi teladan kaum Anshar pada masa lalu, tetapi juga merupakan nilai yang tetap relevan untuk memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial di tengah berbagai tantangan kehidupan masa kini. 

Kesimpulan 

Kesulitan ekonomi yang sedang dirasakan banyak orang saat ini merupakan ujian yang tidak hanya mengukur kemampuan bertahan hidup, tetapi juga menguji kualitas akhlak dan kepedulian sosial kita. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tetap memelihara sifat sakhā’, jūd, dan itsār, yaitu kemurahan hati, kedermawanan, serta kesediaan mendahulukan kepentingan orang lain. 

Karena itu, keterbatasan yang dihadapi tidak semestinya melemahkan semangat untuk berbagi dan peduli terhadap sesama. Justru di tengah kesulitan, nilai kedermawanan menemukan maknanya yang paling nyata. Ketika banyak orang cenderung berfokus pada dirinya sendiri, seorang mukmin dituntut untuk tetap menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan cara itulah kedermawanan menjadi sarana menghadirkan keberkahan, mempererat persaudaraan, dan menggapai ridha Allah Ta’ala. Sebab pada akhirnya, yang abadi bukanlah harta, melainkan kebaikan yang kita tinggalkan. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *