Antara Puasa Ramadhan Dan Jihad

Antara Puasa Ramadhan Dan Jihad

Bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyah menjadi babak baru perjalanan perjuangan untuk memenangkan dakwah Islam dalam lintasan sirah nabawiyah. Arus penentangan dan genderang permusuhan serta peperangan telah dialirkan dan ditabuh oleh rezim kafir Quraisy. Eskalasi ketegangan antara Makkah dan Madinah semakin bertambah memanas. Provokasi dan agitasi disebarkan oleh rezim Kafir Quraisy di seluruh penjuru jazirah Arab untuk melegitimasi serangan ke Madinah dan menjadikan entitas kaum Muslimin sebagai musuh bersama.

Di situasi genting dan mencekam tersebut, Allah turunkan perintah jihad untuk melawan arogansi rezim kafir Quraisy melaui firmanNya QS. Al Baqarah ayat 190 – 193;

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”.

Dengan turunnya ayat tersebut sebagai pertanda dan pesan penting bahwa Allah ﷻ menginformasikan kepada kaum Muslimin untuk bersiap diri menghadapi konfrontasi fisik secara terbuka melawan kekuatan tempur kafir Quraisy yang tidak bisa dihindari lagi dalam waktu dekat. Sinyal penting ini ditangkap secara baik oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Namun di saat yang bersamaan, kaum munafiq dan yahudi mulai menampakkan keengganan mereka untuk menyambut seruan perlawanan menentang arogansi dan ancaman agresi Rezim Kafir Quraisy.

Gelagat buruk tersebut mengandung hikmah yang dipahami oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya sebagai bentuk pembersihan barisan kaum Muslimin dari orang-orang buruk yang menjadi “musuh dalam selimut”. Karena kewajiban pemenangan dakwah Islam hanya bisa dipikul oleh kaum beriman yang secara jujur memberikan loyalitas tanpa batas untuk Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Di sela-sela kesiapan dan kesigapan kaum muslimin dalam menghadapi ancaman terror rezim Kafir Quraisy, turun perintah Allah ﷻ berikutnya di bulan yang sama yaitu Sya’ban tahun 2 Hijriyah berupa kewajiban untuk puasa di bulan Ramadhan. Ayat al Quran yang menandai dimulai kewajiban tersebut adalah QS. Al Baqarah ayat 183 hingga 185.

Dari data sejarah ini muncul pertanyaan menggelitik; mengapa perintah puasa turun di saat kaum Muslimin sedang mempersiapkan diri untuk berperang melawan kekuatan tempur musuh? Bukankah perang membutuhkan kekuatan fisik yang prima?! Bukankah kekuatan fisik ditentukan dengan asupan nutrisi dan makanan yang mencukupi?!

Sebagai seorang mukmin tentunya sikap pertama yang harus ditampilkan adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang Allah ﷻ perintahkan adalah kebenaran dan menjadi kebaikan untuk para hamba-Nya. Difahami hikmahnya atau tidak, setiap ketetapan dan Keputusan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya adalah pijakan dan pedoman yang harus dijaga dan dipatuhi. Inilah konsekuensi iman yang bermuara pada pembenaran (التصديق) yang datang dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Karena akal pikiran manusia sangatlah terbatas untuk bisa menyerap keluasan ilmu dan kebijaksanaan Allah ﷻ.

Di saat perintah jihad dan shiyam (=puasa) diturunkan dalam rentang waktu yang berdekatan dan dalam situasi genting mencekam, Nabi ﷺ dan para sahabat telah memberikan keteladanan yang wajib diikuti oleh setiap generasi Islam di setiap zamannya. Keteladanan itu terletak pada Ketundukan dan kepatuhan yang tulus dan jujur kepada semua perintah Allah ﷻ. Hal itu menjadi karakter dasar yang tertanam dalam diri mereka. Tergambar secara tegas bahwa peta jalan hidup mereka hanya untuk satu tujuan besar; memenangkan agama Allah ﷻ (Islam) di atas seluruh ajaran agama dan ideologi lainnya hingga ketundukan sepenuhnya hanya milik Allah ﷻ. Ditandai dengan tegaknya supremasi kebenaran di atas reruntuhan hegemoni kebatilan. Inilah goal setting yang tersurat dan tersirat dalam QS. Al Anfal ayat 8;

“agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya”.

Dalam peristiwa bersejarah ini Allah ﷻ memberikan pelajaran berharga yang merubah persepsi sebagian besar manusia yang meyakini bahwa kekuatan hanya ditentukan oleh fisik dan kekuasaan semata. Namun pandangan itu diluruskan oleh Islam melalui syariat puasa dan jihad bahwa kekuatan yang sesungguhnya terletak pada sisi ruhani dan motivasi yang sejalan dengan kebenaran. Sekuat apapun kebatilan maka ujungnya adalah kehancuran.

Hadirnya syariat puasa Ramadhan yang mengawali peristiwa bersejarah “perang Badar” di pertengahan Ramadhan tahun 2 H memberikan perspektif korelasi positif antara puasa dan jihad dalam beberapa aspek. Dalam aspek pendidikan, keduanya merupakan madrasah iman yang mendidik hamba untuk selalu Ikhlas, ittiba’ dan ihsan. Tidak mungkin seseorang mau meninggalkan makan dan minum serta kebutuhan biologisnya setiap hari dari waktu shubuh hingga maghrib tiba kecuali orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa lapar dan dahaganya akan diberikan balasan yang tidak terbatas (unlimited) oleh Allah. Sebagaimana jihad, tidak ada seorangpun yang mau mempersembahkan nyawa dan darahnya kecuali dirinya yakin bahwa Allah yang akan menggantinya dengan perkara yang jauh lebih baik dan indah yaitu surga-Nya. Dari sini kita memahami bahwa puasa mengajarkan keikhlasan dan ihsan agar mempersiapkan diri untuk berjihad di jalan Allah.

Dalam aspek sabar, puasa mengajarkan kepada setiap hamba untuk menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sekaligus perkara-perkara syahwat yang bisa merusak pahalanya. Dengan puasa, seorang hamba terlatih hidup sabar menghadapi godaan dan ujian hidup.

Sementara  dalam jihad, sabar adalah modal utamanya. Seorang hamba tidak mungkin bisa berjihad kecuali dengan sabar. Karena jihad lebih banyak menghadapi tekanan fisik maupun jiwa yang tidak ada benteng terkuat untuk menghadapinya kecuali dengan sabar. Betapa banyak kemenangan dan kekalahan dalam suatu pertempuran ditentukan oleh Tingkat kesabaran. Seperti yang tersurat dalam kisah pasukan Thalut saat harus menghadapi pasukan besar yang dipimpin oleh Jalut. Akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Thalut karena kekuatan sabar yang dimiliki.

Terkait dengan pelajaran mencintai kehidupan akhirat, maka puasa dan jihad mengajarkan kepada setiap pribadi muslim untuk focus dalam menggapai kesuksesan dan kebahagiaan akhirat. Puasa mengajarkan untuk hidup zuhud, bersikap qona’ah dan mengetahui betapa rendah dan hinanya dunia. Kenikmatan dunia yang dirasa tidak lebih dari setetes air yang membasahi kerongkongan ketika berbuka. Setelah itu, tidak ada yang dirasakan kecuali hanya ketamakan dan kerakusan yang merusak jiwa.

Hadirkan senyuman dengan berdonasi bingkisan untuk mereka yang membutuhkan

Sementara dalam jihad, tidak ada energi yang siap mengobarkan perlawanan sampai titik darah penghabisan melainkan motivasi cinta akhirat. Karena hakikat kehidupan seorang hamba muslim -dari jiwa dan hartanya- telah dibeli oleh Allah ﷻ dengan imbalan surga. Seperti yang tersurat dalam QS. Al Taubah ayat 111.

Puasa dan jihad menjaga seorang hamba dari penyakit “wahn” (=kelemahan). Penyakit berbahaya yang mengakibatkan hilangnya rasa takut dari dada para musuh Islam terhadap kaum Muslimin. Karena kaum Muslimin tidak memiliki kekuatan bak buih di lautan yang terombang-ambing oleh gelombang. Penyebab utamanya adalah cinta dunia dan benci akhirat. Inilah situasi paling buruk yang menimpa umat Islam.

Dalam aspek tujuan ibadah, puasa adalah salah satu ibadah yang bisa menghantarkan seorang hamba menuju derajat taqwa. Seperti yang tersurat dalam QS. Al Baqarah ayat 183. Sementara dalam jihad, taqwa adalah penggerak utama untuk melahirkan sikap berani berkorban di jalan Allah ﷻ. Semakin tinggi ketaqwaan seorang hamba maka semakin besar pula semangat perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah ﷻ.

Dari korelasi antara puasa dan jihad terjawablah sudah pertanyaan sebelumnya. Bahwa turunnya syariat puasa yang hampir bersamaan dengan jihad adalah dalam rangka mempersiapkan kekuatan jiwa dan fisik agar kaum Muslimin siap berjihad melawan kebatilan. Hanya dengan puasa, jiwa seorang hamba tertempa untuk tergerak memberikan pengorbanan di jalan Allah dan bersih dari tendensi-tendensi duniawi. Karena jihad hanya bisa dijalankan oleh hamba-hamba yang Ikhlas dan ihsan.

Dalam rangkaian catatan sejarah, bulan Ramadhan menjadi momentum tercapainya prestasi-pestasi besar nan gemilang yang digoreskan dengan tinta emas oleh generasi terbaik umat ini. Perjuangan dan kemenangan senantiasa menyelimuti kaum Muslimin di saat mereka berpuasa dan berjihad di bulan penuh keberkahan ini. Di antara peristiwa-peristiwa besar tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kemenangan kaum Muslimin di perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah.
  2. Berhasilnya pembuatan parit untuk persiapan perang Khondaq atau perang Ahzab yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 5 Hijriyah.
  3. Kemenangan kaum Muslimin dalam menguasai kota Makkah dan membersihkan Masjid al Haram dari segala berhala. Dikenal dengan peristiwa “Fathu Makkah” yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah.
  4. Kemenangan Sariyah (pasukan kecil) yang dipimpin oleh Ghalib bin Abdullah yang berkekuatan 130 personel tempur menhadapi kekuatan tempur Bani ‘Awal dan Bani ‘Abd bin Tsa’labah di daerah Najd. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 7 Hijriyah.
  5. Kemenangan kaum Muslimin dalam perang Buwaib yang berhasil membekuk kekuatan tempur Persia. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 13 H.
  6. Penaklukan Andalusia (Spanyol) di bulan Ramadhan tahun 92 Hijriyah oleh panglima Thariq bin Ziyad.
  7. Penaklukan kota Amuriyah oleh kholifah Mu’tashim yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 223 Hijriyah.
  8. Kemenangan kaum Muslimin atas pasukan Tatar Mongol pada perang Ain jalut yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 658 Hijriyah.
  9. Ramadhan tahun 666 Hijriyah, kota Antakiya jatuh di tangan kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Sultan Dhahir Baibras.
  10. Penaklukan Cyprus oleh pasukan kaum Muslimin yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 829 Hijriyah.

Dan masih banyak lagi goresan-goresan prestasi dan kemenangan yang dituliskan oleh kaum Muslimin di bulan Ramadhan di masa silam.

Bergulirnya bulan Ramadhan di setiap tahunnya sejatinya menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman setiap muslim tentang visi, misi dan orientasi kehidupan. Agar kita senantiasa memahami bahwa nilai puasa dan jihad seharusnya berkelindan dalam setiap nafas hamba yang beriman. Spirit puasa dan jihad selalu membara di dada agar perjuangan membela kebenaran tidak pernah berhenti. Lalu bagaimana dengan Ramadhan kita di tahun ini? Goresan prestasi dan kemenangan apa yang akan kita torehkan demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin?!

Ditulis oleh:  Abu Athif, Lc. -غفر الله له ولوالديه-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation