Bulan suci Ramadhan yang dulu kita nanti-nanti, kemudian kita banyak beramal di dalamnya ketika bertemu, nyatanya kini telah pergi. Kepergian bulan suci ini, di satu sisi menyedihkan kita karena banyaknya ampunan dan rahmat di dalamnya, akan tetapi di sisi lain ada kebahagiaan karena kita telah lulus dalam menghadapi ujian perintah wajib puasa tersebut.
Namun demikian, perlu kita ingat, bahwa berlalunya bulan demi bulan, hari silih berganti dan waktu terus berputar, merupakan sunnah Allah yang akan terus berlaku hingga batas yang Dia tentukan. Oleh karena itu, kewajiban kita hanyalah taat akan perintah-perintah Allah Ta’ala, baik untuk menjalankan perintah ataupun meinggalkan seluruh larangan-Nya.
Di sinilah, ujian sebanarnya seorang muslim, yaitu senantiasa taat kapan pun dan di mana pun ia berada hingga ajal menjemput. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 102,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”
Dalam menafsiran ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya, “Tafsīr al-Qur’ān al-Adhīm”, 2/87, menerangkan bahwa barangsiapa menjaga keislamannya dalam menjalani kehidupan dunianya, maka ia akan mati dalam kondisi Islam.
Kiat Merawat Ketaatan
Oleh karena itu, seorang muslim perlu untuk merawat keislamannya dengan senantiasa taat menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala. Berikut ini setidaknya ada tiga kiat agar dapat merawat ketaatan yang telah dibangun selama ini, khususnya selama Ramadhan kemarin.
Pertama: Menjaga niat karena Allah.
Niat merupakan perkara yang sangat penting dalam Islam, sehingga ia menjadi salah satu syarat diterimanya suatu amalan. Termasuk dalam masalah keistiqamahan, niat ikhlas hanya kepada Allah dapat menjadikan manusia senantiasa taat menjalankan perintah agama. Demikian, karena niat selain kepada Allah merupakan tujuan yang tidak akan pernah tercapai, sehingga berujung pada ketidakistiqamahan dalam beramal.
Teringat pesan Abu Bakar Ash-Shidiq ketika wafatnya Rasulullah. Kala itu, Umar bin Kaththab mengancam akan membunuh orang yang menganggap Rasulullah wafat, namun Abu Bakar menyuruh Umar untuk diam, dan ia berkata kepada orang-orang dengan ungkapan yang sangat penting untuk kita catat bersama, “Barangsiapa menyembah Muhammad, sesungguhnya beliau telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tidak mati”
Oleh karena itu, semua niat yang kita tujukan kepada selain Allah adalah fana dan akan meninggalkan kita. Sehingga dapat dikatakan, “Barangsiapa menyembah karena Ramadhan, maka Ramadhan telah pergi. Barangsiapa menyembah karena Allah, maka Allah maha kekal abadi dan tidak akan pernah pergi”
Kedua: Mensucikan hati
Selain menjaga niat hanya kepada Allah, mensucikan diri juga akan menjadikan seorang hamba istiqamah dalam ketaatan. Hati merupakan raja bagi anggota tubuh manusia, sehingga kesucian dan kesehatan hati akan berdampak pada keistiqamahan anggota tubuh untuk merawat ketaatan yang telah dibangun selama ini.
Demikian itu, karena di dalam hati terdapat keikhlasan yang merupakan kunci diterimanya amal; rasa sabar dan syukur yang merupakan kesempurnaan iman; sifat cinta, harap dan takut yang merupakan kesempurnaan ibadah; bahkan kehendak dan berfikir pun termasuk amalan hati. Semua ini menunjukan betapa pentingnya kesucian hati dalam Islam.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda riwayat Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati
Ketiga: Terus berdoa dan meminta doa
Kiat terakhir agar senantiasa taat adalah berdoa dan meminta doa orang-orang shalih secara umum dan khususnya orang tua kita. Berdoa merupakan penghambaan manusia kepada Rabb-nya agar dikabulkan setiap hajatnya baik hajat duniawi ataupun ukhrawi. Doa itu sendiri merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda, riwayat Abu Dawud, no. 1479, Tirmidzi no. 2969, dan Ibnu Majah, no. 3828, “Sesungguhnya doa itu merupakan Ibadah”.
Kemudian Rasulullah membaca firman Allah dalam surat Ghafir ayat 60,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”
Oleh karenanya, agar senantiasa istiqamah dalam ketaatan, kita harus terus berdoa kepada Allah Rabb Semesta Alam. Selain itu, kita juga perlu meminta doa, khususnya kepada kedua orang tua kita. Di mana doa orang tua kepada anaknya termasuk doa yang mustajab di sisi Allah Ta’ala.
Rasululah pernah bersabda, riwayat Abu Dawud, no. 1536 dan Ibnu Majah, no. 3862,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan, tidak ada keraguan padanya; doa orang yang terzhalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya”
Penutup
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan, setidaknya ada tiga kiat untuk merawat ketaatan yang telah dibangun selama ini. Tiga kiat tersebut yaitu, menjaga niat karena Allah, senantiasa mensucikan hati dan berdoa serta meminta doa orang tua. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk senantiasa taat meskipun ramadhan telah berlalu dan zaman terus berkembang, āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.
Amir Sahidin
(Mahasiswa Doktoral Unida Gontor)





