Pada suatu siang, di hadapan layar laptop, berdiri seorang associate professor mewawancarai saya. Wawancara itu dilakukan untuk memenuhi prasyarat masuk ke program doktoral di kampus Islam terkemuka di ibukota. Proposal disertasi yang telah saya siapkan, ditelaah dan dinilai kelayakannya untuk diajukan sebagai calon mahasiswa di program studi Sejarah dan Peradaban Islam.
Ada satu momen menarik, saat sang associate professor lulusan McGill University, yang tentunya akan menjadi dosen pengajar itu mengomentari naskah akademik saya. Ia bilang, “Naskah Anda sangat menarik, karena Anda mengkritik Barat. Namun, ke depan Anda juga harus mengkritik tradisi Timur (maksudnya Islam, red). Jadi nanti ada dialog pertemuan antara Islam dan Barat, meskipun ke depan Anda harus siap-siap menerima kontroversi. Anda jangan ragu mengkritik sirah nabawiyah, meninjau ulang status sahabat, karena itulah pekerjaan seorang akademisi.”
Sebelumnya saya sudah banyak diperingatkan oleh guru dan orangtua jika saya mengambil pilihan studi di UIN, namun saya merasa serangan kejutan tidak akan datang secepat ini. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UIN menawarkan banyak fasilitas dan akses ke ruang akademik yang sangat baik dan bermanfaat bagi akademisi dan peneliti Muslim. Namun tantangannya akan datang dri sisi pemikiran dan birokratisasi kampus. Saat saya meminta restu untuk memilih kuliah di UIN, guru saya menasehati dengan bijaksana, “Bismillah. Jadikan ladang jihad ilmu. UIN = battle field, bukan tempat bersantai.” Dan betul, sejak wawancara hari pertama, saya tidak punya kesempatan untuk bersantai.
Dalam alam pikiran saya, paska wawancara dengan sang profesor di bidang sejarah dan peradaban Islam, berkecamuk sejumlah pertanyaan. Jika saya akademisi Muslim haruskah saya memilih secara dikotomis antara Islam dan Barat. Jika saya menerima salah satunya, apakah otomatis menolak yang lain? Haruskah menjadi Muslim berarti curiga kepada seluruh pemikiran Barat? Ataukah menjadi modern berarti meninggalkan cara pandang Islam terhadap manusia dan kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sesungguhnya menggambarkan salah satu kegelisahan terbesar umat Islam di era modern. Hubungan Islam dan Barat selama ini sering diposisikan dalam dua kutub yang saling berhadapan. Di satu sisi ada narasi yang melihat keduanya sebagai lawan yang tak mungkin dipertemukan. Di sisi lain ada pandangan yang seolah menganggap perbedaan di antara keduanya tidak penting lagi. Padahal realitas jauh lebih rumit daripada dua pilihan sederhana tersebut.
Selama berabad-abad, hubungan Islam dan Barat dibentuk oleh pengalaman sejarah yang panjang dan tidak selalu harmonis. Kolonialisme, imperialisme, dominasi ekonomi, hingga pengaruh besar Barat dalam produksi ilmu pengetahuan modern meninggalkan jejak yang masih terasa hingga hari ini. Tidak mengherankan jika sebagian umat Islam memandang Barat dengan kecurigaan. Namun benarkah seluruh warisan intelektual Barat harus ditolak hanya karena pengalaman historis tersebut? Sebaliknya, apakah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir dari dunia Barat berarti seluruh asumsi filosofis Barat harus diterima begitu saja? Di sinilah perdebatan menjadi menarik.
Samuel P. Huntington pernah mengemukakan tesis yang sangat berpengaruh tentang benturan peradaban. Menurutnya, setelah Perang Dingin, identitas budaya dan agama akan menjadi salah satu sumber utama konflik dunia. Banyak orang kemudian membaca tesis ini sebagai pernyataan bahwa Islam dan Barat memang ditakdirkan untuk bertentangan. Namun pembacaan semacam itu sesungguhnya terlalu sederhana. Huntington lebih sedang mengingatkan bahwa identitas itu nyata dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik global.
Tentu saja ada nilai penting dari peringatan tersebut. Kita tidak bisa memahami masyarakat hanya melalui ekonomi atau politik semata. Manusia juga dibentuk oleh keyakinan, sejarah, bahasa, dan agama. Tetapi apakah perbedaan identitas otomatis melahirkan konflik? Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita justru sering menemukan banyak contoh perbedaan yang tidak berujung pada permusuhan?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar tunggal bernama “Islam” ataupun “Barat”. Dunia Islam terdiri atas beragam bangsa, mazhab, budaya, dan pengalaman sejarah. Barat pun demikian. Di dalamnya terdapat tradisi liberal, konservatif, religius, sekuler, kapitalis, sosialis, hingga berbagai aliran yang saling mengkritik satu sama lain. Jika keduanya sama-sama beragam, lalu siapa sebenarnya yang sedang dibenturkan dengan siapa?
Di tengah perdebatan seperti itulah pemikiran Taha Abdurrahman menawarkan jalan yang berbeda. Dalam bukunya berjudul Rūḥ al-Ḥadāthah: al-Madkhal ilā Ta’sīs al-Ḥadāthah al-Islāmiyyah (The Spirit of Modernity: An Introduction to the Establishment of Islamic Modernity), ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar soal hubungan Islam dan Barat. Baginya, pertanyaan terbesar bukanlah siapa yang akan menang dalam pertarungan peradaban, melainkan siapa yang berhak mendefinisikan modernitas.
Selama ini modernitas sering dianggap identik dengan pengalaman Barat. Seolah-olah untuk menjadi modern seseorang harus berjalan di jalur sejarah yang sama dengan Eropa. Dari sini lahir dilema yang terus menghantui banyak masyarakat Muslim. Jika ingin modern, ikutilah Barat. Jika ingin mempertahankan tradisi, jauhilah modernitas. Taha menolak cara berpikir semacam ini.
Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah ruh modernitas, bukan semata bentuk historis modernitas Barat. Ia berbicara tentang kematangan intelektual, kemampuan kritik, dan orientasi universal. Nilai-nilai semacam ini tidak harus menjadi monopoli suatu peradaban tertentu. Barat mungkin berhasil mewujudkannya dalam pengalaman sejarah tertentu, tetapi bukan berarti Barat menjadi pemilik tunggal modernitas.
Pandangan ini membuka satu kemungkinan yang sangat menarik. Umat Islam tidak harus memilih antara menjadi tradisional atau menjadi salinan Barat. Mereka dapat membangun bentuk modernitas yang tumbuh dari sumber daya intelektual dan moral mereka sendiri.
Di sinilah dialog antara Islam dan modernitas menjadi lebih produktif. Islam, misalnya, dapat menerima gagasan tentang manusia yang dewasa, kreatif, dan mampu berpikir mandiri. Namun Islam juga mengingatkan bahwa kebebasan tidak berdiri di ruang hampa. Kebebasan selalu terkait dengan tanggung jawab (yakni amanah).
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam. Bebas untuk apa? Bebas menuju tujuan yang mana? Dan kepada siapa manusia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya?
Modernitas sering bertanya tentang kebebasan manusia. Islam mengajukan pertanyaan lanjutan tentang arah kebebasan tersebut. Bukankah manusia membutuhkan keduanya sekaligus?
Hal yang sama terjadi pada tradisi kritik. Dunia modern menghargai sikap kritis terhadap otoritas, institusi, dan tradisi. Sebagian orang menganggap semangat kritik ini bertentangan dengan agama. Padahal sejarah intelektual Islam justru penuh dengan tradisi kritik yang sangat kaya. Para ulama mengembangkan kritik hadis, kritik sanad, kritik pemikiran, bahkan kritik terhadap praktik sosial dan politik.
Masalahnya bukan apakah kita mau berpikir kritis atau tidak. Masalahnya adalah bagaimana cara berpikir kritis itu digunakan. Apakah kritik dimaksudkan untuk mencari kebenaran atau sekadar membongkar semua hal tanpa arah? Apakah kritik diarahkan untuk memperdalam pemahaman atau justru menghilangkan semua landasan makna?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa perbedaan Islam dan Barat tidak selalu terletak pada kesimpulan, tetapi sering kali berada pada asumsi-asumsi dasar yang melatarbelakanginya.
Karena itu dialog yang sehat tidak harus memaksa semua perbedaan hilang. Ada kalanya dua tradisi bertemu pada kesimpulan yang sama. Ada kalanya keduanya saling melengkapi. Ada kalanya mereka saling mengoreksi. Dan ada saat-saat ketika mereka memang berbeda secara mendasar.
Tetapi apakah perbedaan harus berarti permusuhan? Bukankah kedewasaan intelektual justru tampak ketika seseorang mampu berkata, “Saya memahami alasan Anda berpikir demikian, tetapi saya tetap berbeda dengan Anda?”
Tantangan terbesar umat Islam hari ini sebenarnya bukan sekadar mengkritik Barat. Mengkritik jauh lebih mudah daripada menciptakan alternatif. Kita bisa mengkritik liberalisme, tetapi apa konsep kebebasan yang ingin kita tawarkan? Kita bisa mengkritik sekularisme, tetapi bagaimana model hubungan agama dan negara yang lebih baik? Kita bisa mengkritik kapitalisme, tetapi sistem ekonomi apa yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat?
Di sinilah relevansi terbesar pemikiran Taha Abdurrahman. Ia tidak mengajak umat Islam sibuk menolak Barat. Ia justru mendorong umat Islam berhenti menjadi konsumen gagasan dan mulai menjadi produsen pengetahuan.

Maka persoalan utamanya bukan lagi apakah suatu konsep berasal dari Barat atau dari dunia Islam. Yang lebih penting adalah apakah konsep tersebut benar, berguna, adil, dan mampu menjawab persoalan manusia. Dari asumsi apa ia berangkat? Nilai moral apa yang dikandungnya? Dapatkah ia dipertanggungjawabkan secara intelektual? Dan jika ada yang kurang, dapatkah ia direkonstruksi menjadi lebih baik?
Sejarah Islam sendiri menunjukkan bahwa peradaban besar lahir bukan dari sikap menutup diri. Peradaban Islam tumbuh melalui perjumpaan dengan banyak tradisi. Ia berdialog dengan Persia, Yunani, India, Yahudi, dan Kristen. Namun keterbukaan itu tidak membuat Islam kehilangan identitasnya. Justru identitas yang matang memungkinkan keterbukaan yang sehat.
Bukankah orang yang paling mudah kehilangan dirinya adalah orang yang sebenarnya belum mengenal dirinya sendiri?
Karena itu, menjadi Muslim di dunia modern tidak harus berarti hidup dalam benteng ketakutan. Menjadi Muslim juga tidak berarti menyerahkan seluruh cara pandang kepada modernitas Barat. Jalan yang lebih menantang sekaligus lebih mulia adalah mengembangkan kemampuan untuk berdialog secara kritis.
Kita belajar dari Barat tanpa harus menyembahnya. Kita mengkritiknya tanpa harus membencinya. Kita menghargai tradisi Islam tanpa mengubahnya menjadi museum yang beku. Kita menghidupkannya agar mampu berbicara kepada zaman.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah Islam harus menerima atau menolak Barat. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apa kontribusi yang dapat diberikan umat Islam kepada dunia hari ini? Apakah kita hanya akan menjadi penonton dalam arus sejarah? Apakah kita cukup puas menjadi pengulang gagasan orang lain? Apakah kita berani membangun teori, institusi, dan pemikiran yang lahir dari perjumpaan kreatif antara wahyu, akal, dan realitas?
Dan yang lebih mendasar lagi, ketika dunia terus berubah dengan sangat cepat, apakah identitas Muslim akan kita jadikan benteng ketakutan, atau justru fondasi keberanian untuk berpikir lebih dalam, lebih jujur, dan lebih kreatif?
Mungkin di sanalah masa depan dialog Islam dan Barat akan ditentukan. Bukan di medan benturan, tetapi di ruang-ruang pemikiran. Bukan oleh mereka yang sibuk memilih kubu, tetapi oleh mereka yang berani membangun jembatan. Bukan oleh mereka yang hanya bertanya siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan oleh mereka yang terus bertanya: kebenaran apa yang belum kita temukan bersama, dan kontribusi apa yang masih bisa kita berikan bagi peradaban manusia?




