Sejenak Bersama Nabi: Hijrah dan Pesan-Pesan Persaudaraan

Sejenak Bersama Nabi: Hijrah dan Pesan-Pesan Persaudaraan

 

 

Delapan hari perjalanan, dan nyaris 500 km jarak tempuhan yang dilewati Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hijrah menuju negeri yang dijanjikan, meninggalkan tanah tumpah darahnya, kota suci yang diberkahi dengan doa Bapak Para Nabi tertinggal di belakangnya, ada gurat-gurat sedih di wajahnya, ada gemuruh perih di dadanya, tapi perintah sudah diturunkan, tidak ada pilihan lain selain patuh dan berserah.

Dr.Nizar Abazah dalam karyanya Fii Madinati ar-Rasul menuliskan deskripsi yang indah bagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam disambut dengan riang gembira setibanya di Madinah; kota cahaya. Berduyun para sahabat menunggu di batas kota. Berhari-hari menanti kedatangan sang Nabi, rasa rindu begitu pekat, sepekat bebatuan hitam di gunung-gunung Yatsrib.

“Marhaban! Selamat Datang, Rasulullah.” Kalimat sambutan bersahutan, kerumunan orang-orang semakin meluap mengelilingi Nabi. Semua berebut mendekat, ingin melihat sosok yang dinanti dan mengucap selamat. Sahabat Zaid bin Tsabit yang hadir menyaksikan hari itu, mengingat satu rangkaian kalimat yang diucap Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam; sebuah pesan persaudaraan diucapkan.

“Saudara-saudara sekalian! Sebarkanlah salam, sedekahkanlah makanan. Sambunglah hubungan kekerabatan dan shalatlah di waktu malam saat orang-orang sedang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan aman sentausa.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Madinah adalah kota hijrah yang keberkahannya dimohonkan dan dimintakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, sebagaimana dahulu kota Mekah dimohonkan keberkahan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihi salam:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَفِي مُدِّنَا، وَصَحِّحْهَا لَنَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الجُحْفَةِ

“Ya Allah, berikanlah kecintaan kepada kami terhadap Kota Madinah sebagaimana Engkau memberikan kepada kami kecintaan terhadap Mekah, atau bahkan lebih dari Mekah. Jadikanlah Madinah sebagai kota yang sehat, dan berikanlah keberkahan pada takaran sha’ dan takaran mudd kami, serta pindahkan penyakitnya ke Juhfah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Pesan-Pesan Persaudaraan

“Saudara-saudara sekalian! Sebarkanlah salam, sedekahkanlah makanan. Sambunglah hubungan kekerabatan dan shalatlah di waktu malam saat orang-orang sedang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan aman sentausa.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kata-kata ini diulang Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam di hadapan penduduk Madinah yang hadir menyambut kedatangannya. Hampir seluruh rumah di Madinah sudah mendengar tentang agama baru ini, beberapa kepala kabilah juga sudah memeluk Islam, berkat dakwah dua sahabat mulia; Mus’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhuma.

Meski demikian, mayoritas penduduk Madinah masih menunggu, dan ingin menyaksikan langsung siapa sosok di balik agama ini, apa pesan yang dibawa, dan bagaimana harapan yang ia sebarkan. Maka kedatangan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab itu, saat pesan itu diperdengarkan, harapan persatuan sedang digaungkan.

Mari sejenak cermati pesan-pesan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, ada dua hal mendasar dari pesan yang disampaikan Nabi; pesan sosial dan spiritual. Tiga pesan pertama; menebarkan salam, berbagi makanan dan menyambung hubungan keluarga dan kekerabatan. Ini adalah pesan-pesan sosial; hablu min an-nas. Pesan keempat adalah mengerjakan shalat malam, dan ini adalah pesan spiritual; hablu min Allah.

Secara porsi pesan sosial lebih dominan dari pada pesan spiritual, tiga banding satu. Tampak jelas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sangat paham mengelola kemajemukan, menyatukan perbedaan, menata perpecahan menjadi persatuan dan kekuatan, dan Nabi paham itu harus dimulai dari keshalihan sosial, tidak cukup sekedar shalih secara spiritual.

Pesan pertama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah tebarkan salam. Sebuah pesan komunikasi masyarakat yang indah, menebar cinta dengan salam dan doa. Salam yang ditebar adalah ekspresi berbagi cinta. Inilah pengejewantahan dari ‘Islam sebagai Rahmat’, sebuah pesan kuat di tengah masyarakat bahwa siapa saja yang menjadi muslim maka pada saat itu ia menjadi pribadi yang lebih hangat dan penuh kasih.

“Tak kenal maka tak sayang.” Begitu pepatah yang kita kenal. Perkenalan dimulai dari saling menyapa, dan cara menyapa terbaik adalah dengan salam dan doa. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam kesempatan lain:

“…Jika mereka saling menebar salam, maka mereka akan saling mencintai..” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma’ad memberikan anotasi terkait pesan pertama ini, bahwa menebarkan salam adalah ekspresi ketawadu’an dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, dan menghilangkan kesan sombong dan tinggi hati, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memberi dan menjawab salam dari siapa saja, anak-anak hingga dewasa, pria juga wanita, para pembesar maupun rakyat jelata, semua mendapatkan salam dan jawaban dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pesan kedua Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah tentang berbagi. Saling memberi makanan agar tumbuh perasaan senasib sepenanggungan, bahwa muslim satu dengan lainnya bersaudara, maka saling memberi akan menumbuhkan cinta dan kasih. Allah memuji mereka yang berbagi makanan karena dorongan cinta kepada Allah terhadap saudaranya:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. (Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” (QS. Al-Qiyamah: 8-9)

Betapa manusia membutuhkan makanan demi mempertahankan hidupnya, tapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ingin kaum muslimin punya kepekaan sosial yang tinggi, semakin berislam semakin tajam empatinya terhadap kebutuhan sesamanya, maka Islam benar-benar disebarkan lewat laku penganutnya. Mereka yang belum beriman akan melihat dari dekat bagaimana Islam menjadi api yang menghidupkan lentera jiwa manusia untuk menyangi manusia lainnya.

“Wahai Para Muslimah, janganlah sekali-kali kalian meremehkan pemberian tetangga kalian meski sekedar tulang kaki kambing.” Berbagilah, meski masakanmu sekedar tulang kaki kambing. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan tentang esensi dari berbagi, yaitu menjalin cinta dan merajut ukhuwah.

Pesan ketiga Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah tentang menyambung kekerabatan. Pesan ini penting, belajar dari proses dakwah di Mekah, beberapa sahabat dimusuhi oleh keluarga dan kerabat mereka setelah berislam, maka hal serupa bisa terulang kembali di Madinah.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam membangun kesadaran akan pentingnya menyambung tali kekeluargaan, jangan sampai Islam jadi sumber masalah di tengah keluarga yang menyebabkan permusuhan, para sahabat harus bisa menjadi duta-duta risalah di tengah kaumnya, sekaligus menjadi langkah preventif munculnya permusuhan bagi dakwah Islam. Meski mereka tidak langsung berislam, paling tidak mereka tidak membenci dan memusuhi.

Bahkan pesan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam jelas, silaturahim tidak sekedar menjaga hubungan yang sudah terawat, tetapi menyambung kembali hubungan yang putus.

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”.(Muttafaqun ‘alaihi)

 

Sholih Sosial

Muara dari pesan-pesan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah tentang keshalihan sosial. Di “rumah baru” kaum muslimin, pesan dakwah pertama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bukan soal politik, bukan soal membangun ekonomi, bukan juga soal janji-janji kejayaan dan kemenangan. Akan tetapi pesan sederhana tentang menumbuhkan cinta dan kasih, merajut persaudaraan dalam kebersamaan.

Manusia tidak membaca al-Quran, mereka tidak mengenal Islam, tapi mereka melihat gerak laku dan sikap hidup dari setiap muslim yang berinteraksi setiap hari dengan mereka. Mereka mengukur kita bukan dengan ukuran keshalihan ritual; shalat, puasa, zikir. Bukan. Manusia melihat dengan penuh selidik keshalihan sosial yang kita tampakkan; adab dan akhlak, tutur kata dan gimik wajah, sikap simpati dan pembawaan yang teduh.

Memang tidak tepat menilai Islam dari penganutnya (muslim), tapi manusia akan menyorot Islam dari umat Islam. Maka tugas setiap muslim adalah menjadi juru kampanye yang menebarkan pesan-pesan persaudaraan, mendekatkan hati manusia untuk nantinya didekapkan dalam Iman dan Islam.

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.”(QS Al Anbiya: 107)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation