Logo
Sejenak Bersama Nabi: Nama Membawa Rasa

Sejenak Bersama Nabi: Nama Membawa Rasa

“Siapa namamu?”

“Jamrah (Bara)” jawab lelaki itu.  Umar diam sejenak mencerna nama yang disebutkan laki-laki di hadapannya. “Siapa nama ayahmu?”

“Syihab (bola api)”. “Dari mana asalmu?” Umar masih melempar pertanyaan.

“Aku dari al-Huraqah (yang terbakar), tempat tinggalku di harratu naar (bebatuan berapi) dan rumahku di Dzatu lazha (yang berkobar)” jelas pemuda itu.

“Pergilah segera, sungguh rumahmu telah terbakar.” Lelaki itu segera beranjak menuju rumahnya dan mendapati rumahnya telah terbakar seperti yang dikatakan oleh Umar.

Percakapan singkat ini direkam Imam Malik dalam al-Muwatha’. Nama-nama yang terdengar seperti rangkaian api itu seakan menjadi sebuah teka-teki yang menarik perhatian Umar. Bukan berarti rangkaian nama menentukan nasib dan takdir seseorang. Tentu tidak. Namun, percakapan itu menunjukkan satu hal menarik: bagi generasi terdahulu, nama bukan sekadar bunyi yang dipakai untuk memanggil seseorang.

Jangan Asal Unik

Mengapa Nabi ﷺ memberikan atensi yang tinggi soal nama, sebab nama tidak hanya mewakili sebuah identitas semata, ada makna dan rasa yang bisa ditangkap di balik sebuah nama.

Adalah Nabi ﷺ sangat perhatian soal nama, di suatu kesempatan Nabi ﷺ ingin memerah susu kambing, maka berdirilah seseorang mengajukan diri untuk melakukan itu. “Siapa namamu?” hal pertama yang ditanyakan Nabi ﷺ pada sahabat tersebut.

“Murrah”  Jawab lelaki itu. “Duduklah!” tampak Nabi ﷺ kurang berkenan setelah sahabat tersebut menyebutkan namanya.

Berdiri orang kedua mengajukan dirinya untuk memerah susu kambing, dan Nabi ﷺ bertanya tentang hal yang sama, “Siapa namamu?”.

“Harb”. Nabi ﷺ masih belum berkenan, “Duduklah!”

Lelaki ketiga berdiri, dan Nabi ﷺ langsung menanyakan tentang namanya; “Ya’isy (hidup)” jawabnya,  dan Nabi ﷺ segera memberi perintah, “Perahlah susu itu!” (HR. Malik dalam al-Muwatha’)

Dua nama pertama memiliki makna yang tidak disukai; Harb (perang) dan Murrah (pelit), dua nama ini dibenci dan buruk bagi jiwa, jelas Ibnu Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. Sementara nama ketiga berarti “hidup”.

Nama menunjukkan bahwa kata yang kita gunakan untuk memanggil seseorang bukan sesuatu yang sepenuhnya tanpa makna dan dalam tradisi orang Arab ada ungkapan yang populer terkait nama dan penamaan:

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

Dalam kisah lainnya, pada peristiwa Hudaibiyah saat orang-orang Qurasiy mengutus Suhail bin Amru sebagai juru runding mereka, Nabi ﷺ menangkap isyarat kemudahan dalam negoisasi yang akan berlangsung. Maka saat Suhail datang Nabi ﷺ mengatakan “Sungguh telah dimudahkan (sahhala) bagimu urusanmu.” (HR. Al-Bukhari)

Sebab nama Suhail berasal dari kata Sahl yang bermakna mudah, seakan Nabi ﷺ menangkap secercah optimisme dari nama seseorang yang akan berunding menentukan nasib dua kelompok yang sedang berseteru.

Ibnu Qayyim menjelaskan, bahwa nama dan yang diberi nama mesti memiliki kaitan, kesesuaian dan kedekatan antara bentuk-bentuk sesuatu dan hakikatnya, begitu juga antara ruh dan jasad, sehingga akal manusia bisa melihat indikasi tersebut.

Bagi Nabi ﷺ kata-kata selalu punya makna dan rasa, ada isyarat halus yang ditangkap Nabi ﷺ dan kemudian melahirkan rasa optimisme dan harapan yang baik. Tentu, nama tidak bisa memaksa seseorang menjadi seperti maknanya. Tetapi sebuah nama yang baik membawa makna yang baik setiap kali ia disebut. Ia menjadi harapan yang berulang-ulang terdengar di telinga pemiliknya.

Seperti seseorang yang dipanggil ‘Shalih” seakan-akan nama itu jadi pesan yang terus didengungkan “jadilah orang yang baik (shalih)’ atau seseorang yang bernama Abdullah, maka setiap namanya disebut seakan jadi pengingat; “kau adalah hambanya Allah”.

Nama adalah ekspresi jiwa dan doa. Bagi orang tua, nama sering kali menjadi salah satu cara pertama untuk mengungkapkan harapan kepada anak. Nabi ﷺ memerintahkan untuk memberi nama-nama yang baik secara makna untuk anak-anak yang dilahirkan. Bukan sekedar memberi nama yang unik, tapi harus punya makna yang baik.

Sebab, nama-nama yang digunakan di dunia akan turut ikut menjadi identitas seseorang di hari kiamat. Seperti sabda Nabi ﷺ:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ، فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka perbaguslah nama-nama kalian.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Maka penting memberi nama dengan makna seperti doa, di mana setiap nama itu disebut terdengar seperti harapan yang selalu disemogakan, atau nama yang ketika diucap mengingatkan akan sosok Nabi yang mulia atau orang shalih yang telah tiada. Karena nama menghubungkan seseorang pada nilai yang melekat pada sosok yang ingin diduplikasi kebaikannya.

Baca juga: Wakaf Pembebasan Rumah Dakwah Himayah Foundation

Mengubah Nama

Nama bukan perlombaan menjadi berbeda. Nama adalah cara pertama orang tua menyampaikan harapan kepada anaknya. Maka menyematkan nama pada seseorang jangan asal unik dan nyentrik, karena esensi utama dari sebuah nama adalah makna dan arti yang baik yang diharapkan akan menjadi identitas kebaikan yang melekat pada pemilik nama tersebut.

Tercatat sekian riwayat dalam Sunan Abu Daud, bahwa Nabi ﷺ mengubah nama sekian sahabat disebabkan nama-nama itu punya makna yang tidak baik. Ada seorang wanita bernama ‘Ashiyah (pendosa), maka Nabi ﷺ ubah namanya menjadi Jamilah yang berarti indah atau jelita. Sahabat lain bernama Huzn (sedih) dan Nabi ﷺ menggantinya menjadi Sahl (mudah). Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf pada mulanya bernama Abd Ka’bah (hamba ka’bah), dan Abu Hurairah punya nama asli Abd Syams (hamba matahari). Setelah keduanya masuk Islam Nabi ﷺ mengganti nama mereka menjadi Abdurrahman.

Nama tidak menentukan takdir seseorang, tetapi nama membawa makna, doa, identitas, dan rasa yang terus menyertai pemiliknya. Seorang anak mungkin tidak pernah memilih nama yang diberikan kepadanya. Tetapi ia akan mendengarnya berulang-ulang: dari panggilan ibunya, suara gurunya, teman-temannya, hingga ketika kelak ia dipanggil oleh orang-orang yang dicintainya.

Sekali lagi, memilih nama bukan sekadar mencari bunyi yang indah, tetapi memilih makna yang ingin kita sematkan kepadanya. Nama yang akan terus disebut dan didengar jutaan kali sepanjang hidupnya. Maka pilihlah sebuah nama yang selalu akan terdengar seperti sebuah doa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *