Revitalisasi Sholat: Dari Rutinitas Menuju Ibadah Totalitas

Revitalisasi Sholat: Dari Rutinitas Menuju Ibadah Totalitas

— Ditulis oleh: Abu Athif, Lc. -غفر الله له ولوالديه-

Sholat adalah ibadah Istimewa yang bernilai tinggi dalam syari’at Islam. Karena ia sebagai bukti kejujuran iman dan islam seorang hamba. Hingga Nabi ﷺ menyebutkan sholat sebagai pembeda antara iman dan kufur dalam sebuah haditsnya:

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَد كَفَرَ”. (رواه الترمذي، والنسائي، وابن ماجه، وأحمد)”

Artinya: “Perbedaan antara kita (kaum Muslimin) dan mereka (kaum kafir) adalah sholat, maka barang siapa meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir.” (HR Tirmidzi, an Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Begitu pentingnya perkara ini hingga disebutkan kata sholat dengan derivasinya dalam al Quran tidak kurang dari 67 ayat. Ditambah lagi dengan penyebutan keutamaannya dalam hadits-hadits Nabi ﷺ semakin menunjukkan bahwa sholat adalah amalan besar dan bernilai tinggi di sisi Allah ﷻ.

Salah satu keutaman penegakan sholat dalam kehidupan sehari-hari adalah pencegahan diri dari perkara keji dan munkar. Perihal ini disebutkan dalam firman Allah ﷻ:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ۝

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al ‘Ankabut: ayat 45)

Imam al Syaukani menjelaskan bahwa kata الْفَحْشَاءِ berarti segala yang buruk lagi keji dari perbuatan, sementara kata الْمُنْكَرِ menunjukkan segala perkara yang tidak diketahui dalam syariat dan diingkari. Beliau juga menjelaskan bahwa di antara alasan dan tujuan dari penegakkan sholat adalah pencegahan diri dari perkara keji dan munkar.

Baca juga: Wakaf Pembebasan Rumah Dakwah Himayah Foundation

Dari sini kita memahami bahwa semakin rajin sholat maka seharusnya semakin sedikit perbuatan maksiatnya. Ditegakkannya sholat seharusnya berbanding lurus dengan bertambhanya ketaatan dan ketundukan kepada Allah ﷻ. Masyarakat yang menjaga aktifitas sholat seharusnya akan terjaga pula keamanan dan kedamaiannya.

Indonesia dengan data jumlah penduduk muslim terbesar di dunia yaitu sebanyak 244,7 juta jiwa di awal tahun 2025 seharusnya menunjukkan negeri yang paling aman, makmur dan sejahtera serta minim kemaksiatannya.

Namun kenyataan berkata lain, dalam sebuah laporan; Indonesia dinobatkan sebagai negara tertinggi pengguna judi online. Bahkan nilai transaksinya mencapai ratusan triliun. Dalam kasus korupsi, Indonesia masih menunjukkan tren peningkatan kasusnya dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan tajam pada tahun 2023 dan 2024. Data angka kriminalitas pun menunjukkan tren peningkatan pada tahun 2023, dengan 584.991 kasus kejahatan menurut BPS, naik dari 372.965 kasus pada tahun 2022, atau 288.472 kasus menurut data Polri yang naik 4,33% dari tahun sebelumnya.

Bertolak dari fenomena yang ada, sudah seharusnya kita merenung bagaimana hal ini bisa terjadi di saat suara adzan masih menggema di bawah kolong langit negeri ini? Bagaimana bisa kemaksiatan masih beredar luas di saat masyarakat muslim masih banyak yang menunaikan sholat? Mengapa masih ada yang benci syariat islam sementara dirinya rajin sholat? Mengapa diri kita masih mudah terbujuk kepada kemungkaran sementara kita masih menjaga sholat lima waktu dan bahkan sholat sunnah?

Apakah mungkin ibadah sholat sudah mulai ditinggalkan oleh Sebagian kaum muslimin? Belum ada data yang benar-benar valid dan diakui oleh semua kalangan terkait dengan prosentase umat Islam di Indonesia antara yang mengerjakan sholat dengan yang meninggalkannya.

Pernah muncul sebuah data di tahun 2019 yang menyebutkan bahwa prosentase umat Islam yang tidak menjalankan sholat lima waktu mencapai angka 0,4%. Maknanya adalah 99,6 % umat Islam Indonesia masih menjalankan sholat lima waktu. Jika angka ini benar, lalu kita bandingkan dengan fenomena di tengah masyarakat, maka kita haruslah bermuhasabah, ada apa dengan sholat kita? Apakah hanya sekedar rutinitas jasad semata?!

Antara Gerakan Jasad Dan Hadirnya Jiwa Dalam Sholat

Sholat bukanlah pekerjaan rutinitas tanpa makna. Hadirnya syariat sholat menjadi penguat “sinyal” koneksi antara hamba dengan Penciptanya. Dari sini lah jiwa seorang hamba akan menguat dan terikat dengan rasa kasih sayang Allah ﷻ. Rasa selalu diawasi oleh-Nya pun tumbuh mengakar kuat di dalam dadanya. Pribadinya akan berubah menjadi sosok beraura tangguh dan berdedikasi tinggi demi terwujudnya kebaikan dan tegaknya kebenaran serta menyebarnya keadilan di muka bumi.

Namun, ketika sholat tidak disadari sebagai upaya totalitas dalam beribadah maka yang terjadi adalah gerakan jasad tanpa ruh dan kosong dari makna. Acap kali, menjadi “beban” dalam hidup yang seakan-akan harus ditanggalkan. Tidak heran, jika pelaksanaannya sekedar mengikuti aturan fiqh, yang penting “sah”. Ujungnya hanyalah kesia-siaan belaka. Jika hal ini terjadi pada diri kita, maka sepatutnya kita merenungi hadits Nabi ﷺ berikut ini:

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال رسول الله ﷺ:إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ، لعله يتمُّ الركوعَ، ولا يتمُّ السُّجودَ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ (رواه المنذري في الترغيب والترهيب وحسنه الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة)

Artinya: “Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhoinya- Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang sholat selama enam puluh tahun dan tidak diterima sholatnya, boleh jadi dia menyempurnakan ruku’ dan tidak menyempurnakan sujud, dan boleh jadi dia menyempurnakan sujud dan tidak menyempurnakan ruku’.” (HR. Al Mundziri dalam kitab at Targhib wa al Tarhib, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah al Ahadits al Shahihah)

Dalam riwayat lain, orang yang yang tidak menyempurnakan gerakan sholat dinobatkan sebagai manusia pencuri paling buruk. Karena dirinya menjadi pencuri sholat:

عن أبي قتادة الحارث بن ربعي -رضي الله عنه- عن النبي ﷺ قال:أسوَأُ النَّاسِ سَرِقةً الذي يَسرِقُ مِن صَلاتِه، قالوا: يا رسولَ اللهِ، وكيف يَسرِقُ مِن صَلاتِه؟ قال: لا يُتِمُّ رُكوعَها ولا سُجودَها -أو قال: لا يُقيمُ صُلبَه في الرُّكوعِ والسُّجودِ. (رواه أحمد)

Artinya: Dari Abu Qatadah semoga Allah meridhoinya- dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Manusia paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari shalat”. Mereka (para sahabat) berkata, “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”, atau beliau bersabda, “Dia tidak meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” [HR. Ahmad]

Berpijak dari dua hadits tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa ada korelasi positif antara kesempurnaan gerakan dan kondisi jiwa seorang hamba. Sholat haruslah menyatukan antara gerakan jasad dan hadirnya jiwa di dalamnya agar terhindar dari sifat “pencuri paling buruk” Karena gerakan dzahir seringnya mencerminkan kondisi hati dan jiwa seorang hamba.

Sholat, ibadah yang berat kecuali bagi orang yang khusyu’

Gabungan antara kesempurnaan gerakan jasad dan hadirnya hati akan menghasilkan kekhusyukan. Inilah ruhnya sholat. Ibadah sholat akan memberikan dampak positif bagi diri seorang hamba dan lingkungan sekitarnya ketika khusyu’ hadir di dalamnya.

Karena sholat bukan semata-mata ibadah yang focus untuk diri sendiri, melainkan sebagai tempaan untuk membentuk pribadi yang mampu mengejawantahkan perintah dan syari’at Allah di atas muka bumi. Inilah perkara berat yang harusnya disadari oleh setiap muslim saat dia berdiri untuk sholat. Untuk misi besar inilah Allah memerintahkan kita agar meminta pertolongan kepada-Nya melalui sabar dan sholat. Allah ﷻ berfirman:

           وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ۝ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ      

Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: ayat 45-46)

Sholat khusyu’ akan berimplikasi pada totalitas beribadah kepada Allah ﷻ. Imam al Dhohak berkata : “Sesungguhnya perkara sholat itu besar dan berat kecuali bagi orang-orang khusyu’ yaitu orang-orang tunduk dan patuh kepada-Nya, takut dengan kekuasaan-Nya, percaya dengan janji dan ancaman-Nya.”

Ketika seorang hamba sudah berada di maqom khusyu’ maka perintah apa pun yang datang dari Allah ﷻ akan siap dilaksanakan sepenuh hati dan menjadi ringan baginya. Mengapa? Karena khusyu’ membawa hamba kepada kedekatan dengan Allah. Di titik inilah seorang hamba tidak akan pernah merasa sendirian. Dia yakin bahwa Allah sangatlah dekat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Nabi Muhammad ﷺ memberikan keteladanan kepada kita dalam masalah ini. Besarnya halangan dan beratnya ujian dalam mengemban perjuangan dakwah untuk memenangkan Islam beliau hadapi dengan sholat. Sebagaimana yang terekam dalam sebuah hadits:

عن حذيفةَ قالَ كانَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ إذا حزبَهُ أمرٌ صلَّى (رواه أبو داود، وأحمد، والبيهقي)

Artinya: Dari Hudzaifah bin Yaman berkata: “Adalah Nabi ﷺ apabila ada masalah besar menimpanya maka beliau melaksanakan sholat.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Baihaqi)

Makna menegakkan sholat (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ)

Ada perkara yang patut dicermati dalam perintah mengerjakan sholat dalam Al Quran, yaitu kata وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Dan tegakkanlah/dirikanlah sholat”. Al Quran tidak menyebutkan kata perintah “lakukanlah sholat!”, atau perintah lain semisal kata “kerjakanlah sholat!”. Hal ini mengisyaratkan kedalaman makna dari diksi إقامة الصلاة (penegakkan sholat).

Abdullah bin Abbas menjelaskan tentang hal ini: “Menegakkan sholat adalah menyempurnakan ruku’, sujud, tilawah, khusyu’ dan perhatian fokus serta bersungguh-sungguh di dalamnya.”

Dari atsar ini bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa penegakkan sholat terdiri dari dua unsur yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya; dzohir dan bathin. Penegakkan sholat secara dzohir yaitu dengan menyempurnakan rukun, wajib dan sunnah-sunah di dalamnya. Sementara secara bathin yaitu dengan hadirnya hati dan khusyu’. Di bagian inilah sholat seorang hamba diketahui kualitasnya di sisi Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda dalam masalah ini:

إنَّ الرَّجلَ لينصرِفُ ، وما كُتِبَ لَه إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها ، نِصفُها (رواه أبو داود)

Artinya: : “Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari sholatnya, tidaklah ditetapkan (pahala sholatnya) baginya kecuali hanya sepersepuluh dari sholatnya, atau sepersembilan, atau seperdelapan, atau sepertujuh, atau seperenam, atau seperlima, atau seperempat, atau sepertiga, atau setengahnya.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyah menukil perkataan Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa sholat seseorang sesuai dengan kadar apa yang ia fahami dari sholatnya. Semakin memahami apa yang dibaca dan gerakan yang dilakukan dalam sholat maka kekhusyukan akan bertambah. Sebaliknya jika tidak memahami apa yang dibaca dan apa yang dilakukan dalam sholat maka kekhusyukan semakin terkikis. Dan hal ini berujung pada apa yang disebutkan dalam hadits di atas.

Penegakkan sholat tidak berhenti dalam dua unsur ini. Namun perkara ini berlanjut pada buah dari sempurnanya unsur dzohir dan bathin. Kekhusyukan sholat dan kualitas gerakannya akan terlihat pada hasil “outcome”-nya yaitu kemampuan untuk mencegah perbuatan yang keji dan mungkar ditambah dengan pengagungan hak-hak Allah ﷻ, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون۝

Artinya: “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al ‘Ankabut: ayat 45)

Dengan memahami esensi perintah وأقيموا الصلاة (=Dan Tegakkanlah Sholat) maka revitalisasi nilai-nilai sholat dalam kehidupan sehari-hari akan terwujud. Pemahaman yang komprehensif tentang makna penegakkan sholat akan membawa sholat hamba dari kegiatan rutinitas menjadi spirit ibadah totalitas untuk Allah dalam setiap aktivitas hidupnya. Tidak hanya itu, sholatnya akan memberikan “impactfull” (berdampak penuh) bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya hingga bangsa dan negara.

والله أعلم بالصواب، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation