الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الزَّمَانَ مَيْدَانًا لِلْأَعْمَالِ، وَجَعَلَ الأَعْمَارَ رَأْسَ مَالٍ لِلْعِبَادِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِيَ إِلَى الْمُسَارَعَةِ فِي الْخَيْرَاتِ، وَالتَّحْذِيرِ مِنَ الْمُقَامِ عَلَى السَّيِّئَاتِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
.أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat-Nya, nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang setia mengikuti tuntunan beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan itulah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba dalam menjalani kehidupan di dunia dan kelak ketika kembali menghadap Allah ﷻ.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Memasuki tahun 2026, sudah sepatutnya seorang mukmin tidak sekadar mengganti angka tahun, tetapi memperbarui resolusi iman. Sebab bagi seorang mukmin, waktu bukan hanya deretan hari yang berlalu, melainkan bagian dari umur yang terus berkurang dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ.
Oleh karena itu, pergantian tahun hendaknya menjadi momentum muhasabah dan perbaikan diri. Maka bagi seorang mukmin yang pandangan hidupnya tidak semata-mata terbatas pada urusan duniawi, setiap resolusi dan tekad untuk mencapai suatu target tentu akan sangat erat kaitannya dengan kehidupan akhirat. Sebab orientasi hidupnya bukan hanya keberhasilan di dunia, tetapi keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Lalu, resolusi apakah yang hendaknya paling didahulukan oleh seorang muslim di awal tahun ini, sebelum ia menyusun dan menatap target-target yang lain? Maka ada dua pokok utama yang patut dijadikan prioritas:
1) Pertama, berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal saleh.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Seorang mukmin tidak menjadikan kebaikan sebagai amalan sampingan, tetapi sebagai kebutuhan hidup dan tujuan utama perjalanannya. Ia menyadari bahwa kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali, dan waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Karena itu, tahun 2026 hendaknya dipandang sebagai kesempatan baru; apa yang belum sempat dikerjakan pada waktu-waktu sebelumnya, seharusnya dapat mulai diwujudkan dengan niat yang lebih lurus dan tekad yang lebih kuat.
Allah ﷻ berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan bukan sekadar untuk dilakukan, tetapi untuk dipercepat dan diprioritaskan. Seorang mukmin dituntut untuk tidak menunda amal saleh dan tidak merasa cukup dengan kebaikan yang telah ia lakukan.
Imam al-Qurthubi mengatakan tentang ayat ini: “Kalimat ini mengandung dorongan untuk segera bergegas dan menyegerakan diri dalam melaksanakan seluruh bentuk ketaatan secara umum.” (Tafsir al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān)
Namun, kebaikan tidak dinilai dari sedikit atau banyaknya semata, tetapi dari kualitas dan konsistensinya. Amal yang dilakukan dengan ikhlas, benar, dan terus-menerus lebih dicintai oleh Allah ﷻ daripada amal yang besar namun terputus dan tidak berkelanjutan.
Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari Muslim)
Maka seorang mukmin berusaha agar setiap harinya diisi dengan amal yang mendekatkannya kepada Allah ﷻ, apapun yang ia mampui, sesuai kapasitas dan kesanggupan. Ia berharap agar amal saleh tersebut menjadi pemberat timbangan kebaikan dan sebab keselamatannya di akhirat kelak.
2) Kedua, berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh meninggalkan kemaksiatan
Inilah opsi bagi siapa pun yang mungkin belum mampu untuk berlomba dalam kebaikan dan memperbanyak amal saleh. Sebab pada kondisi tertentu, amal yang dipandang oleh Allah ﷻ sebagai pahala yang besar bukanlah banyaknya kebaikan yang berhasil dilakukan, melainkan kesungguhan seorang hamba dalam meninggalkan keburukan yang selama ini biasa ia kerjakan.
Meninggalkan maksiat bukan perkara ringan. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri, kesabaran dalam menahan hawa nafsu, serta keberanian untuk berubah. Namun justru di situlah nilai besarnya. Ketika seorang hamba mampu menghentikan kebiasaan buruknya, menahan lisan dari dosa, menjaga pandangan, dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah ﷻ, maka pada saat itulah ia sedang melangkah menuju ketaatan yang sejati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa di antara bentuk hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan sikap dan perilaku, dari maksiat menuju ketaatan. Maka bagi siapa pun yang mampu menahan diri dari keburukan yang biasa ia lakukan, itulah amal besar di sisi Allah ﷻ.
Muhammad bin Ka‘b al-Qurazhi رحمه الله berkata: “Allah tidak pernah disembah dengan suatu amalan apa pun yang lebih Dia cintai daripada meninggalkan perbuatan maksiat.”
Karena itu, bagi siapa pun yang merasa berat untuk menambah amal-amal besar, hendaknya jangan meremehkan upaya meninggalkan dosa. Sebab berkurangnya kemaksiatan adalah tanda hidupnya iman, dan terputusnya kebiasaan buruk adalah awal dari datangnya taufik dan pertolongan Allah ﷻ.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibn al-Jauzi رحمه الله: “Seandainya seseorang meninggalkan satu perbuatan maksiat karena Allah Ta‘ala, niscaya ia akan melihat buah (dampak kebaikan) dari perbuatan itu; demikian pula apabila ia mengerjakan suatu ketaatan.”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita jadikan awal tahun 2026 ini sebagai momentum memperbaiki diri: menata rencana amal shalih, meningkatkan kualitas kebaikan, dan menjauhkan diri dari keburukan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selalu bersemangat dalam kebaikan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan, sehingga kita menutup tahun dengan amalan yang diridhai-Nya.
نَفَعَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِهَدْيِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah kita memohon kepada Allah dengan penuh harap, semoga tahun 2026 ini menjadi tahun di mana kita dapat mendulang amal shalih, menambah kebaikan, serta mendapatkan wasilah untuk menghapus kesalahan dan dosa-dosa kita yang lalu. Semoga Allah menjadikan setiap langkah kita tahun ini penuh berkah dan ridha-Nya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



