Menelusuri Jejak Emas Sirah Nabawiyah di Bulan Dzulqa’dah

Menelusuri Jejak Emas Sirah Nabawiyah di Bulan Dzulqa’dah

Dalam kalender Hijriah, bulan Dzulqa’dah sering kali terasa “hening”. Ia berada di antara keriuhan syawal pasca Idul Fithri dan kesibukan persiapan ibadah haji serta penyambutan Idul Adha di bulan Dzulhijjah.

Bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan diagungkan oleh Allah ﷻ. Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ۝﴾

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. [QS. At Taubah: 36].

Secara etimologi, Dzulqa’dah berasal dari kata qa’ada yang berarti duduk atau berdiam diri. Namun, di balik ketenangannya sebagai salah satu bulan haram yang mulia, sejarah Islam mencatat bahwa bulan ini adalah waktu di mana Rasulullah ﷺ mengukir banyak kemenangan diplomatik dan syariat yang besar.

Bulan ini bukan sekadar masa jeda, melainkan panggung bagi peristiwa-peristiwa yang mengubah arah dakwah Islam selamanya. Mari kita tengok kembali jejak-jejak agung tersebut.

1)  Tahun 5 Hijriah: Ketegasan Hukum dan Reformasi Sosial

Dzulqa’dah tahun ke-5 Hijriah merupakan masa yang sangat sibuk bagi Madinah. Setidaknya ada dua peristiwa besar yang menjadi catatan sejarah:

  • Penyelesaian Kasus Bani Quraizhah: Tepat setelah Perang Khandaq usai, Rasulullah ﷺ mengepung benteng kaum Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat. Peristiwa ini berakhir di bulan Dzulqa’dah dengan penegakan keadilan yang membersihkan Madinah dari ancaman internal.
  • Pernikahan dengan Zainab binti Jahsy: Di tahun yang sama, Rasulullah ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy. Pernikahan ini membawa misi revolusi hukum sosial; Allah menurunkan wahyu untuk menghapus tradisi Jahiliyah yang menganggap anak angkat setara dengan anak kandung dalam hal nasab dan hukum pernikahan. Ketetapan ini tertuang dan firman Allah ﷻ:

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka…” (QS. Al-Ahzab: 37)

2) Tahun 6 Hijriah: Diplomasi Hudaibiyah dan Kemenangan Nyata

Pada tahun ini, terjadi salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah Islam. Rasulullah ﷺ memimpin 1.400 sahabat menuju Makkah untuk umrah, namun dihadang oleh kaum Quraisy di Hudaibiyah.

Di bulan Dzulqa’dah inilah terjadi Bai’at Ridwan, sebuah sumpah setia para sahabat di bawah pohon untuk membela Islam hingga titik darah penghabisan. Sumpah setia sebagai bentuk reaksi atas tersebarnya isu pembunuhan Ustaman bin Affan sebagai utusan negosiasi dari Rasulullah ﷺ. Sumpah ini mendapat ridha langsung dari langit:

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka menjanjikan setia kepadamu di bawah pohon…” (QS. Al-Fath: 18)

Keteguhan dan jiwa perlawanan yang Tangguh ini melahirkan Perjanjian Hudaibiyah. Meski secara lahiriah perjanjian ini tampak merugikan Muslim, Allah ﷻ justru menyebutnya sebagai Fathu Mubin (Kemenangan yang Nyata) karena gencatan senjata tersebut membuka pintu dakwah seluas-luasnya ke seluruh Jazirah Arab.

3) Tahun 7 Hijriah: Umrah Qadha dan Melunaknya Hati Quraisy

Sesuai kesepakatan Hudaibiyah, pada Dzulqa’dah tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah ﷺ melaksanakan Umrah Qadha (umrah pengganti). Ini adalah momen emosional di mana kaum Muslimin akhirnya bisa kembali beribadah di Ka’bah setelah bertahun-tahun dalam pengasingan.

Di sela kunjungan ini, Rasulullah ﷺ menikahi Maimunah binti Al-Harits. Pernikahan ini bersifat strategis karena Maimunah memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh penting Quraisy (seperti Khalid bin Walid), yang secara perlahan mengubah kebencian kaum Quraisy menjadi simpati terhadap dakwah Nabi.

4) Tahun 10 Hijriah: Perjalanan Menuju Haji Wada’

Mendekati akhir masa kenabian, tepatnya pada tanggal 25 Dzulqa’dah tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ bertolak meninggalkan Madinah menuju Makkah. Perjalanan ini bertujuan untuk melaksanakan Haji Wada’ (haji perpisahan). Di bulan inilah Rasulullah ﷺ memulai perjalanan ibadah haji satu-satunya yang beliau lakukan, di mana beliau kemudian menyampaikan khutbah fenomenal yang berisi prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan penyempurnaan agama Islam.

Ibrah untuk Masa Kini

Melihat urutan sejarah di atas, kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga:

  • Visi dan Sabar: Kemenangan tidak selalu datang dari peperangan, tapi sering kali dari kesabaran dalam diplomasi (Hudaibiyah).
  • Loyalitas tanpa batas untuk Allah dan Rasulullah : Dalam Baiat Ridwan, para sahabat memberikan keteladanan mulia dalam merealisasikan ketaatan dan kesetiaan dalam kebenaran di jalan Allah.
  • Keutamaan Waktu: Rasulullah ﷺ hampir selalu melaksanakan umrahnya di bulan Dzulqa’dah, menunjukkan bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sekaligus menjadi bulan untuk mempersiapkan diri dalam keberangkatan ibadah haji.

Dari Anas bin Malik -semoga Allah meridhoinya- bahwa Nabi berumrah empat kali di bulan Dzulqa’dah kecuali umrah bersama hajinya: umrah Hudaibiah, umrah Qadha, Umrah di Ji’ronah yang mana beliau membagi  harta rampasan perang Hunain dan umrah hajinya di bulan Dzulhijjah. [HR. Bukhari dan Muslim].

  • Integritas: Menjaga keadilan dan hukum tetap teguh, namun selalu membuka pintu bagi perdamaian.
  • Keberkahan Pernikahan : Keberkahan dan kemuliaan pernikahan ditentukan oleh niatan yang Ikhlas, tata cara sesuai syari’at dan komitmen menjaga serta membina keluarga untuk melahirkan generasi robbani.

Penutup

Dzulqa’dah bukan sekadar “bulan duduk” sebagaimana arti namanya. Bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, bulan ini adalah bulan perjuangan diplomasi dan pemantapan syariat. Dengan memahami urutan sejarah ini, semoga kita bisa mengisi bulan Dzulqa’dah dengan kesadaran penuh akan kemuliaan yang ada di dalamnya.

Oleh: Abu Athif, Lc. -غفر الله له ولوالديه-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation