Merawat Ketaatan Dalam Persaingan :  Sejenak Bersama Nabi:

Merawat Ketaatan Dalam Persaingan :  Sejenak Bersama Nabi:

 

Rivalitas dalam ketaatan adalah bagian dari karakter orang-orang bertaqwa, “bertarung” berebut amal, menjadi sosok yang paling terdepan dalam kebaikan dan kesholihan adalah sebuah upaya merawat ketaatan sepanjang zaman.

Tahun 9 Hijriyah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengumumkan persiapan pasukan, butuh biaya yang sangat besar untuk perjalanan lebih dari 800 Km ke arah utara menuju Tabuk, dan lawan tanding kali ini juga tidak biasa, Romawi penguasa dunia dengan segala kedigdayaannya.

Imam Tirmidzi dan Abu Daud merekam kenangan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang bagaimana rivalitas amal itu dilakukan. Umar datang menghadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam membawa separuh dari harta yang ia miliki. Tentu itu jumlah yang sangat besar.

“Aku akan mengalahkan Abu Bakar kali ini.” Bisik Umar di dalam hatinya. Hasrat bersaing membuncah, dan Umar mendapatkan momentum untuk bisa mengalahkan mertua Nabi tersebut.

“Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Selidik Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.

“Aku menyisakan separuh hartaku yang lain untuk keluargaku.” Jelas Umar.

Tidak lama sang rival tiba dengan pikulan harta yang banyak, menyerahkannya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam melemparkan pertanyaan yang sama, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”

Jawaban Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berbeda, jawaban yang membuat Umar tertunduk lesu. “Aku tinggalkan untuk keluargaku Allah dan RasulNya.”

Entah seperti apa persisnya persaan Umar saat mendengar kalimat Abu Bakar tersebut, tapi kalimat yang meluncur dari lisannya jelas menunjukkan bahwa dia sudah kalah dalam rivalitas ketaatan bersama teman sejawatnya tersebut. “Tidak akan pernah aku mengalahkan Abu Bakar. Selamanya.”

 

Rivalitas Untuk Merawat Ketaatan

Seni menjaga gairah dalam amal, salah satunya adalah memiliki lawan tanding; saingan. Memiliki saingan akan membuat seseorang selalu punya alasan untuk terus melaju, enggan tertinggal oleh saingannya, dan efek positif dari suasana ini adalah selalu ada energi baru untuk terus maju.

Ibnu Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, orang-orang shalih dahulu selalu menjadikan orang yang lebih taat dari mereka sebagai ‘lawan tanding’ untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada ungkapan di antara mereka:

لَو أَنّ رَجُلاً سَمِعَ بِأَحَدٍ أَطْوَعُ لِلّهِ مِنْهُ كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَحْزَنَهُ ذَلِكَ

“Sekiranya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah dari darinya, sudah selayaknya dia bersedih akan hal tersebut.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, h.244)

Dalam ungkapan lain, Wahib bin al-Ward mengatakan,

إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَسبِقَكَ إِلَى اللهِ أَحَدٌ فَافْعَلْ

“Jika bisa, jangan biarkan seorang pun mendahuluimu menuju (menggapai ridha) Allah.”

Persaingan orang-orang beriman adalah persaingan ketaqwaan. Persaingan terpuji demi tendensi derajat lebih dekat dan lebih tinggi di akhirat, bukan persaingan karena hal-hal rendah yang besifat duniawi sesaat.

Ambisi untuk saling mengungguli di antara para sahabat pernah diutarakan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, Abu Dzar al-Ghifari merekam sebuah peristiwa di mana sebagian sahabat curhat pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sebab ketertinggalan amal mereka atas sahabat-sahabat yang berharta.

“Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah mengambil bagian pahala yang besar. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka berpuasa seperti kami puasa, lalu mereka bersedakah dengan kelebihan harta yang mereka miliki.”

Kecemburuan para sahabat lahir bukan semata-mata karena materi yang berbeda, akan tetapi kesempatan untuk bisa unggul atas yang lain dalam amal taat, itulah inti keresahan dari pengaduan ini. Sebagian sahabat ingin agar diajari sesuatu yang membuat mereka bisa menyusul ketertinggalan amal tersebut, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bisa memahami hal tersebut.

“…Sesungguhnya setiap tasbih itu sedekah, dan setiap takbir itu sedekah, dan setiap tahmid itu sedekah, dan setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kepada hal yang ma’urf itu sedekah, mencegah dari yang mungkar juga sedekah, dan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.”

Rivalitas dalam taat adalah bara dalam amal, ia berfungsi untuk memicu dan memacu ketertinggalan amal, bahwa persaingan orang-orang beriman adalah pada hal-hal yang punya nilai ukhrawi, pada segala amal yang meninggikan derajatnya di sisi Allah Ta’ala.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadid: 21)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Himayah Foundation